Konsep Mendidik Anak Ala Nabi


           

“Kebanyakan orang belum menyadari bahwa anak-anak adalah salah satu unsur umat ini. Hanya saja dia bersembunyi dibalik tabir kekanak-kanakannya. Apabila kita singkapkan tabir itu, pasti kita temukan dia berdiri sebagai salah satu tiang penyangga bangunan umat ini. Akan tetapi, ketentuan Allah pasti berjalan, yaitu bahwa tabir tersebut tidak akan tersingkap selain dengan bimbingan dan pendidikan secara berkala, sedikit demi sedikit. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan bertahap”. (Muhammad al-Khidr Husain).

Telah ada pada diri Rasulullah SAW suri tauladan yang baik bagimu. Demikian pernyataan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21. Keteladanan Rasulullah saw merupakan keteladanan terhadap semua hal, termasuk dalam hal pendidikan, terutama bagaimana Rasulullah SAW mencontohkan pendidikan untuk anak. Berikut konsep pendidikan yang diajarkan Nabi untuk semua orang tua, guru dan siapapun yang terlibat dalam pendidikan.
1.      Berikan Keteladanan
Keteladanan sangat erat kaitannya dengan komitmen, kejujuran dan integritas. Keteladanan berarti melakukan apa yang diucapkan dan mengucapkan apa yang sudah dilakukan. Seorang guru atau pendidik harus bisa menampilkan suri tauladan yang baik didepan anak-anak didiknya. Contoh sederhana, seperti menjanjikan sesuatu (hadiah) kepada anak ketika anak bisa melakukan sesuatu yang diminta oleh guru atau orang tua. Ketika anak bisa melaksanakan hal tersebut dengan baik, dan guru tidak memenuhi janjinya untuk memberikan sesuatu (hadiah) tersebut, maka adalah sebuah kedustaan yang sudah diajarkan kepada anak.

Secara psikologis manusia butuh akan teladan (peniruan) yang lahir dari ghorizah (naluri) yang bersemayam dalam jiwa yang disebut juga dengan taqlid. Yang dimaksud peniruan disini adalah hasrat yang mendorong anak, seseorang untuk meniru prilaku orang dewasa, atau orang yang mempunyai pengaruh dalam kehidupannya.
Keteladanan memang berat. Dalam kepemimpinan sebenarnya yang sangat sulit bukanlah ilmu-ilmu manajemen, teori-teori kepemimpinan, karena semua itu bisa dipelajari, bisa dibaca. Namun yang sulit itu adalah menampilkan keteladanan. Suri teladan yang baik memiliki dampak yang besar pada kepribadian anak. Sebab, fitrah anak adalah meniru dan mencontoh apa yang dilakukan orang tua, guru dan lingkungannya. Anak-anak akan selalu memperhatikan dan meneladani sikap dan perilaku orang dewasa. Apabila mereka melihat orang tua, gurunya berperilaku jujur, mereka akan tumbuh dalam kejujuran. Demikian juga sebaliknya.

Sudah selayaknyalah orangtua dan guru memberi keteladanan kepada anak-anaknya. Para orangtua dan guru sebaiknya memberikan contoh yang baik sesuai dengan nasihat dan ucapannya kepada para anaknya. Akan sangat lucu jika yang disampaikan orangtua dan guru kepada anak-anaknya ternyata tidak dilakukan oleh orangtua dan guru itu sendiri. Dalam Islam, keteladanan dari orangtua sangat menentukan terlebih di zaman sekarang media tontonan tidak dapat diharapkan menjadi contoh yang baik bagi pembentukan akhlak anak-anak muslim.

2.      Cari waktu yang tepat untuk memberi pengajaran
Pengajaran akan efektif ketika diberikan dan dilakukan pada saat dan waktu yang tepat. Maka seorang pendidik harus mengetahui saat-saat yang tepat untuk mendekati dan memberikan pengajaran kepada seorang anak. Karena kalau waktunya tidak tepat bukan mustahil nasehat, arahan dan pengajaran yang disampaikan justru ditolak oleh sang anak. Rasulullah saw selalu memerhatikan secara teliti tentang waktu dan tempat yang tepat untuk mengarahkan anak, membangun pola pikir anak, mengarahkan perilaku anak, dan menumbuhkan akhlaq yang baik pada diri anak.
a.       Saat dalam perjalanan
Dalam kondisi ini, secara psikologis jiwa anak dalam kondisi yang tenang, senang dan siap menerima masukan, nasehat dan pengarahan dari orang lain. Kondisi yang siap secara psikologis inilah yang mesti dimanfaatkan sebaik mungkin oleh guru atau orang tua untuk bisa memasuki jiwa anak, memberikan nasehat dan meluruskan kesalahan-kesalahan yang dilakukannya.

b.      Ketika sedang makan
Saat makan juga adalah waktu yang sangat tepat bagi orang tua atau guru untuk memberikan nasehat, masukan dan pengajaran kepada anak. Waktu ini harus senantiasa ada dalam sebuah keluarga ataupun bersama gurunya, karena ini momen-momen ketika anak siap secara psikologis.

c.       Saat anak sedang sakit
Sakit adalah kondisi dimana jiwa manusia berada dalam kondisi yang lembut dan mengalami peningkatan secara spiritual. Apalagi anak-anak yang memang secara fitrah jiwanya yang relatif masih bersih. Oleh sebab itu momen ini semestinya bisa dimanfaatkan oleh guru ataupun orang tua untuk bisa masuk kedalam jiwa anak.

3.      Do’akan
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menyampaikan bahwa ada 3 doa yang tidak tertolak: doa orang yang sedang dalam perjalanan (safar), doa orang yang terdzalimi, dan doa orang tua terhadap anaknya. Maka mendoakan anak adalah sebuah peluang yang diberikan Allah swt kepada orang tua untuk mewujudkan keinginan orang tua terhadap anaknya.

Sebesar apapun usaha orangtua dan guru dalam merawat, mendidik, menyekolahkan dan mengarahkan anaknya, andaikan Allah ta’ala tidak berkenan untuk menjadikannya anak yang salih, niscaya ia tidak akan pernah menjadi anak salih. Hal ini menunjukkan betapa besar kekuasaan Allah swt dan betapa kecilnya kekuatan kita. Ini jelas memotivasi kita untuk lebih membangun ketergantungan dan rasa tawakkal kita kepada Allah swt. Dengan cara, antara lain, memperbanyak menghiba, merintih, memohon bantuan dan pertolongan, memperbanyak doa kepada  Allah dalam segala sesuatu, terutama dalam hal mendidik anak.

Mendoakan anak adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Karena doa adalah termasuk ibadah yang utama. Doa orang tua sungguh ajaib jika itu ditujukan pada anak-anak mereka. Jika orang tua ingin anaknya menjadi sholeh dan baik, maka doakanlah mereka karena doa orang tua adalah doa yang mudah diijabahi oleh Allah swt. Namun ingat sebenarnya doa yang dimaksudkan di sini mencakup doa baik dan dan juga sekaligus doa yang buruk dari orang tua pada anaknya. Makanya harus hati-hati ketika marah kepada anak, dan kemudian orang tua dan guru kemudian mendoakan anak dengan sesuatu yang buruk.
Diantara doa terbaik adalah doa sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 74:  “Ya Tuhan kami, Anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan kami dan keturunan kami yang menyenangkan hati, dan jadikan kami imam bagi orang yang bertaqwa”.
Semoga Allah memperkenankan doa kita sebagai orang tua yang berisi kebaikan kepada anak-anak kita. Semoga anak-anak kita berada dalam kebaikan dan terus berada dalam bimbingan Allah di jalan yang lurus. Jika kita sebagai anak, janganlah sampai durhaka pada orang tua. Banyak-banyaklah berbuat baik pada mereka, sehingga kita pun akan didoakan oleh bapak dan ibu kita. Wallahu’alam bisshawab

0 Response to "Konsep Mendidik Anak Ala Nabi"