Sekilas; Hasan Albanna, Al Maududi dan Sayyid Qutub

"Setelah menyaksikan dialog Syekh Dr. Usamah Sayyid di CBC, ada sesuatu yang menggelitik di hati saya untuk dituliskan. Coretan-coretan ini bukan ingin menjawab apa yang disampaikan syekh Usamah, tapi hanya ingin menyampaikan sesuatu yang sempat saya baca. Karena bukan maqom saya untuk menjawab syekh kabir seperti beliau. jangankan saya, banyak ustad sayapun belum dalam posisi untuk menjawab beliau"

Syekh Dajwy tidak menolak manhaj IM. Karena saat dialog dengan beliau, Hasan Albanna masih di semester 6 atau 7 di bangku S1. Belum ada yang namanya IM, belum juga ada manhaj IM (karena beliau menyusunnya secara bertahap dari tahun ke tahun sampai akhir hayatnya). Lalu ide apa yang dilontarkan oleh Hasan Albanna kepada Syekh hingga membuat wajah beliau jadi berubah? Bagi kawan-kawan yang meruju' ke buku Muzakkirat ad dakwah wadda'iyah akan bisa mencermati dengan baik. Sekilas akan saya paparkan.

Di awal abad 20 M, kristenisasi seolah mendapat lahan subur di Mesir, dan hampir masuk ke semua provinsi. Di masa SMP, Hasan Albanna telah dianugerahkan oleh Allah perhatian terhadap krisis akhlak dan agama yang sudah merebak bahkan sampai ke daerah tempat ia dibesarkan. Bahkan saat ia memasuki masa SMA, ia sudah mulai melakukan beberapa upaya dalam mencerahkan masyarakat kembali kepada Islam bersama teman-temannya dibawah bimbingan ustad di madrasahnya.

Saat Albanna masih duduk di bangku kuliah universitas Kairo,ia benar-benar menyadari bahwa kristenisasi adalah ancaman yang sangat serius,seolah tidak mendapati perlawanan. Syekh Yusuf Ad Dajawy, adalah seorang ulama besar di Al Azhar tempat Hasan Albanna mendatangi jadwal rutin di majelis beliau, dan terkadang di rumah syekh. Hari ini, selesai pelajaran Hasan Albanna menyampaikan gundah gulana di hatinya melihat realita kaum muslimin di Mesir, di Kairo khususnya. Permasalahan besar yang sangat mengusik hati Hasan Albanna adalah kristenisasi yang semakin merebak.  Di akhir, Syekh Dajawy berpesankepada Hasan Albanna dengan sebuah syi’ir;

وما أبالي إذا نفسي تطاوعني ... على النجاة بمن قد مات أو هلكا

dan pesan beliau selanjutnya: “Berbuatlah semampumu, serahkanhasil kepada Allah, la yukallifullahu nafsan illa wus’aha”

Hasan albanna menginginkan sebuah aksi dan pergerakan nyatamelawan kristenisasi yang melanda masyarakat, yang mana masyarakat itu tidak hadirdi majelis2 ulama di azhar dan di masjid2. Hingga Albanna merasa tidak puas dengan jawaban yang disampaikan oleh Syekh Dajwy. Akhirnya beliau menyampaikan dengan penuh semangat kepada syekh Dajwy ungkapan yang sangat berani.

إنني أخالفك يا سيدي كل المخالفة في هذا الذي تقول. وأعتقدأن الأمر لا يعدو أن يكون ضعفاً فقط، وقعوداً عن العمل، وهروباً من التبعات: من أي شيء تخافون؟ من الحكومة أو الأزهر؟.. يكفيكم معاشكم واقعدوا في بيوتكم واعملوا للإسلام،فالشعب معكم في الحقيقة لو واجهتموه، لأنه شعب مسلم، وقد عرفته في القهاوي ، وفي المساجد،وفي الشوارع، فرأيته يفيض إيماناً، ولكنه قوة مهملة من هؤلاء الملحدين والإباحيين،وجرائدهم ومجلاتهم لا قيام لها إلا في غفلتكم، ولو تنبهتم لدخلوا جحورهم. يا أستاذ! إن لم تريدوا أن تعملوا لله فاعملوا للدنيا وللرغيف الذي تأكلون، فإنه إذا ضاع الإسلام في هذه الأمة ضاع الأزهر، وضاع العلماء، فلا تجدون ما تأكلون، ولا ما تنفقون، فدافعواعن كيانكم إن لم تدافعوا عن كيان الإسلام، واعملوا للدنيا إن لم تريدوا أن تعملوا للآخرة،وإلا فقد ضاعت دنياكم وآخرتكم على السواء"!.

Wajah syekh Dajwy berubah, sampai keadaan menjadi tegang. Beberapa teman Albanna yang hadir di majlis menjadi kaget, seolah Albanna telah melampaui batas dalam bersyikap terhadap syekh. Akhirnya Syekh Ahmad Bek Kamil; salah seorang yang hadir di majlis, menenangkan situasi, beliau berkata kepada syekh Dajwy; “ Maaf Ustazy, anak muda ini hanya menginginkan para ulama berkumpul untuk menolong agama Islam. Sekiranya antum butuh tempat, saya siapkan rumah saya, semua terserah para masyayikh. Sekiranya butuh harta, para muhsinin siap membantu. Kalian adalah para pemimpin, kami akan selalu berada di belakang kalian...”. Namun pada akhirnya, sebagian anggota majlis setuju pendapat syekh Dajwy dan sebagian yang lain mendukung pendapat syekh Ahmad Bek Kamil. Sebagai tindak lanjutnya, disepakati perkumpulan di rumah Syekh Muhammad Sa’ad tidak jauh dari rumah Syekh Dajwy.

Dalam pertemuan tersebut Hasan Albanna duduk di samping syekh Dajwy. Hasil pertemuan ini, disepakati akan diadakan aksi nyata yang dilakoni oleh para ulama Al Azhar dan ulama2 mesir lainya. Untuk permulaan syekhvMuhammad Sa’ad menginventarisir nama-nama ulama di Mesir waktu itu termasuk yangvtidak hadir di majlis. Selain para masyayikh yang hadir, Syekh Muhammad Sa’admenyebutkan nama2 lain seperti: Syekh  MuhammadAl Khudhry, Syekh Muhammad Ahmad Ibrahim, Syekh Abdul Aziz Al Khuly, SyekhRasyid Ridha, dll. Alfath; sebuah majalah yang terbit di tahun 20-an adalahhasil perkumpulan ulama dalam melawan kristenisasi dengan Pimred Muhibbuddin Al Khatib. Di Isi oleh para ulama dan disebarluaskan oleh para pemuda. Hasan Albanna terus aktif dalam majalah ini sampai akhirnya ia tamat dari Universitas Kairo tahu 1927.


Almaududi terpengaruh IM atau IM terpengaruh oleh Almaududy?

Seandainya dikatakan bahwa Hasan Albanna banyak mewarisipemikiran Al Maududi, itu tidak sepenuhnya benar, apalagi bila sampai mengatakan bahwa hasan albanna mewarisi ‘takfir’ dari Al Maududy. Bila dikatakan punya kemiripan, memang benar. Al Maududy lahir 3 tahu sebelum Hasan Al Banna, dan dua-duanya tumbuh sebagai penggerak perjuangan Islam secara bersamaan, hanya tempat mereka berbeda. Mulai dari pergerakan kecil-kecilan sampai pada pertubuhan jama’ah. Perbedaanya adalah, pergerakan Ikhwan Muslimin didirikan oleh Hasan Al Banna pada tahun 1928 M, sedangkan Al Maududi mendirikan pergerakan Jama’ah Islamiyah di India baru 1939 M dan di Pakistan pada tahun 1941, waktu yang sangat berbeda. Dan Allah takdirkan Almaududi hidup 33 tahun lebih lama dari Albanna. Hasan Albanna banyak mewarisi pemikiran Muhammad Abduh, Rasyid Ridho dalam pergerakan Islam. Di saat yang sama beliau selalu belajar ilmu-ilmu syari’at di majelis-majelis ulama-ulama mesir pada waktu itu. Ide pendirian jama’ah pergerakan oleh Almaududi banyak diwarisi dari IM. Jadi, siapa yang terpangaruh dan siapa yang mempengaruhi?

Seorang tokoh Islam di Mesir yang banyak terpengaruh oleh pemikiran Abul A’la Almaudi adalah Sayyid Qutub, namun begitu juga sebaliknya, Almaududi juga banyak mengadopsi pemikiran-pemikiran sayid Qutub lewat buku-buku mereka. Namun perlu diketahui, bahwa Sayyid Qutub waktu itu bukanlah kader IM, dan ia tidak tumbuh dari tarbiyah IM. Sejak kepulangannya dariAmerika, Sayyid Qutub memang sudah merasa tertarik dengan pergerakan IM. Baru pada tahu 1953 M ia menyatakan diri secara resmi bergabung dengan IM saat itu ia sudah berumur 47 tahun dan saat itu mursyid IM adalah Hasan Hudhaibi. Walaupun demikian, corak pemikiran Sayyid Qutub sudah punya karakter tersendiri. Dalam beberapa hal beliau memiliki kesamaan cara berfikir dengan Almaududy.

Permasalahan “TAKFIR”
Banyak ulama berkomentar tentang pemikiran Almaududy terkait standar beliau dalam menghukumi orang lain jatuh dalam kekafiran. Saya sendiri belum banyak mengenal buku-buku beliau. Sayyid Qutub dalam beberapa bukunya menyebutkan sebagian umat Islam dengan kata-kata “jahiliyyah”. Sebagian ulama mengkiritik beliau dengan mengatakan bahwa Sayyid Qutub sudah mengafirkan kaum muslimin walaupun secara tidak lansung. Bahkan ada juga ulama yang mengatakanbahwa Sayyid Qutub kafir.

Lalu, Apakah IM mengambil manhaj Sayyid Qutub ini?

Sejak menyatakan diri bergabung dengan IM, sayyid Qutub banyak merubah prinsip dalam pemikirannya melebur dengan prinsip perjuangan IMsedikit demi sedikit. IM sendiri telah punya prinsip yang jelas dalam permasalahan “TAKFIR”. Namun beberapa pemuda ikhwan ada yang terpengaruh oleh kerasnya pemikiran sayyid Qutub. Walaupun mereka pemuda-pemuda ikhwan, tapi metode yang mereka ambil dari Sayyid Qutub bukanlah manhaj IM. Imam HasanAlbanna meletakkan kaedah yang harus dipegang oleh setiap pengikutnya pada poin terakhir dalam Al Ushul Al ‘Isryin berbunyi:

 “لا نكفر مسلماًأقر بالشهادتين وعمل بمقتضاهما وأدي الفرائض ـ برأى أو معصيةـ إلا أن أقر بكلمة الكفر ، أو أنكر معلوماً من الدين بالضرورة ، أو كذب صريح القرآن، أو فسره على وجه لا تحتمله أساليب اللغة العربية بحال ، أو عمل عملاً لا يحتمل تأويلاًغير الكفر

“Kita tidakmengkafirkan seorang muslim, yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapat maupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia mengatakan kata-katakufur, mengingkari sesuatu yang telah diakui sebagai bagian penting dari agama,mendustakan secara terang-terangan Al-Qur'an, menafsirkannya dengan cara-cara yangtidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab, atau berbuat sesuatu yang tidak mungkin diinterpretasikan kecuali dengan tindakan kufur”

Mursyid kedua; Hasan Hudhaibi meluruskan kembali beberapa pemuda yangterlalu bersemangat itu dan sekaligus menulis buku " نحن دعاة لا قضاة"  menjelaskanprinsip-prinsip aqidah dalam Islam. Bahkan, dalam satu dialog, DR. Yusuf Qaradhawi turut juga mengkritik manhaj Sayyid Qutub.

Bagi teman-teman yang menyimak dialog syekh Usamah mungkin akan menyimpulkan bahwa IM mempunyai manhaj “TAKFIR”, namun yang sebenarnya itu adalah kecenderungan berfikir Abul A’la Almaududi dan juga mempengaruhi cara berfikir Sayyid Qutub, dan cara berfikir kedua tokoh ini bukan manhaj IM. Bahkan, bila kita menyimak dialog para ulama dalam masalah aqidah ternyata mereka sampai ke tingkat saling mengafirkan satu sama lain -na’uzubillah min zalik-, setelah diteliti ternyata mereka bukan para ulama dari kalangan IM.

0 Response to "Sekilas; Hasan Albanna, Al Maududi dan Sayyid Qutub"