Berqurban Untuk Diri Sendiri

Sementara mempersiapkan diri utk berqurban, sudahkah berkurban juga utk diri sendiri?
Bisa melakukan sesuatu untuk orang lain’ adalah salah satu ungkapan paling populer saat seseorang ditanyakan apa yang penting dalam hidupnya. Bahkan, dari pengalaman saya sendiri, ungkapan tersebut cukup sering berada di Top 4. Tidak secara otomatis berarti cukup banyak orang juga yang akan berbuat baik kepada orang lain. Ini sebuah sinyal NIAT, setidaknya.

Yang menarik adalah bagaimana NIAT ini muncul di kebanyakan orang, walau tidak ada NIAT kuat untuk melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Pertanyaannya: bagaimana kita menolong orang lain di sebuah konteks kalau di konteks tersebut kita bahkan tidak bisa menolong diri sendiri? Bagaimana kita berbuat baik ke orang tanpa, tanpa berbuat baik pada diri kita sendiri? Bagaimana kita membangun hubungan baik dengan orang lain tanpa menjaga hubungan baik dengan diri kita sendiri?

Mari kita menganggap diri kita sebagai orang yang di kebanyakan situasi ingin bisa berbuat untuk orang lain. Singkatnya; FOKUS kita adalah ‘di luar’ dan/atau ‘keluar’. Kita melihat, mendengar, mengalami dengan orientasi di luar diri kita. Bagus? Tentu saja bisa sangat bagus, terutama saat atau dalam konteks kita ingin bisa peka atau membuka kepekaan sensory (indera) kita. Dan tidak dalam konteks kita ingin mengevaluasi diri atau saat kita butuh motivasi dari dalam. Dan bisa memberikan tantangan tersendiri saat kita ingin berbuat baik untuk diri sendiri, membangun RAPPORT atau hubungan baik dengan diri sendiri. Kadang, dalam tingkat paling ekstrim, malah kita akhirnya menjadi tergantung pada kebaikan orang lain, karena kita tidak kunjung berbuat baik untuk diri sendiri. Kadang kita malah akhirnya membutuhkan dan bahkan tergantung pada bantuan orang lain, padahal di hal yang sama tersebut, kita justru membantu orang lain lagi. Kita membantu orang lain dengan hubungan mereka, sementara hubungan kita sendiri berantakan. Kita membantu orang lain membuat keputusan, sementara kita sendiri sebegitu sulitnya membuat keputusan untuk diri sendiri!

Berbuat baik untuk diri sendiri itu negatif? Memanjakan diri sendiri? Membelikan hadiah untuk diri sendiri? Menghargai diri sendiri? Merayakan kemenangan diri sendiri? Mencari waktu untuk diri sendiri? Merawat diri sendiri? Mengembangkan diri sendiri? Bahkan meladeni 'perbincangan' dengan diri kita sendiri? Mendengarkan dan menyayangi diri kita sendiri? Hanya untuk kita sendiri? Why? Why not? Apakah hanya karena ada persepsi kuat yang miring mengenai perilaku ‘berbuat baik terhadap diri sendiri’, yang rupanya kuat sekali asosiasinya dengan label ‘egois’ atau ‘self-centered’ atau ‘lupa diri’ atau sejenisnya? Bagaimana kalau justru kita justru benar-benar ‘melupakan diri sendiri’ dan ‘tidak mengurusi’ diri sendiri? Dan, bagaimana kalau ternyata dengan baik pada diri sendiri, kita justru bisa lebih baik lagi pada orang lain? Bagaimana kalau ternyata dengan membangun hubungan yang lebih baik dengan diri sendiri, kita semakin harmonis dalam membangun hubungan dengan orang lain? Kita tentu tidak bicara mengenai hanya baik pada diri sendiri dan mengurusi diri sendiri selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Kita bicara soal menyeimbangkan pikiran dan perilaku kita! Kita bicara mengenai menghargai diri kita!

Ini adalah salah satu virus yang beredar di dunia luar: saat kita berbuat baik untuk diri sendiri, akan ada orang yang coba melemparkan ‘guilty feeling’ ke arah kita. Seolah kita harus merasa bersalah kalau kita mengurusi diri sendiri. Seolah kita harusnya malu kalau baik pada diri sendiri. Seolah kita tidak boleh memikirkan diri sendiri, kapan pun dan di konteks apapun!

Baik pada orang lain adalah baik di banyak konteks. Baik terhadap diri sendiri tidak kalah baik. Memikirkan orang lain adalah baik di banyak konteks, memikirkan diri sendiri pun punya kebaikan di konteks tertentu. Semua ada tempatnya, semua ada waktunya, semua ada takarannya. Dan kedua sisinya tetap kita perlukan. Be good to yourself!

Perhatikan diri kita sebagaimana kita perhatikan orang lain. Bersahabatlah dengan diri kita, sebagaimana kita ingin bersahabat dengan orang lain. Pedulilah untuk mengenal diri kita lebih jauh, memahami, menghormati berbagai kepentingan kita sendiri, seperti halnya kita ingin coba memahami kepentingan orang lain. Ingat, bahwa segala sesuatunya adalah kontekstual. Berbuat baik pada diri sendiri bukan hal yang buruk di semua konteks. Dan kalau kita hubungkan lagi dengan perbuatan yang EKOLOGIS, misalnya dengan berbuat baik terhadap diri sendiri kita lebih mampu berbuat baik untuk orang lain, maka WHY NOT?

Be good to yourself! Ingat, kadang di saat tertentu kita butuh perbuatan baik orang lain di sebuah konteks, perbuatan tersebut tidak ada. Kadang kita ingin mendapatkan feedback dari orang lain sebagai pemacu, feedback tersebut tidak tersedia. Kadang kita ingin dihargai karena prestasi kita, penghargaan tidak tampak dan tidak terdengar. Kadang kita ingin diperhatikan, perhatian tidak ada. Lalu? Saat itu, kita ingin mengandalkan siapa? Daripada menyalahkan orang lain yang tidak memberikan kita hadiah saat kita berulang tahun, belikan diri sendiri hadiah. Daripada kesal tidak ada yang mengurusi kita, rawat dan urus diri sendiri dengan baik. Daripada marah-marah tidak ada yang memuji saat kita melakukan sebuah pekerjaan dengan baik, hadap ke cermin dan tepuk pundak sendiri sambil berucap, “Good job!”. Frustrasi tidak diberikan promosi dikantor? Kenapa tidak mengembangkan diri sendiri dahulu? Ada 1001 macam cara berbuat baik untuk diri sendiri!

Be good to yourself!
Ingatlah selalu, ada PILIHAN untuk baik pada diri sendiri, mengurusi diri sendiri, membahagiakan diri sendiri, dan menjaga RAPPORT dengan diri sendiri! Di banyak konteks, dengan begitu kita justru bisa berbuat baik lebih banyak untuk orang lain, lebih bisa mengurusi orang lain, lebih bisa membahagiakan orang lain, atau lebih mampu menjaga RAPPORT atau hubungan baik dengan orang lain. Biasanya orang yg bermasalah hubungannya dengan orang lain, juga memiliki hubungan yang buruk dengan diri sendiri, seperti : self esteem yang buruk, suka menyalahkan diri sendiri, menyesali masa lalunya, dst.

Have a positive day!

0 Response to "Berqurban Untuk Diri Sendiri"