Meraih Kemuliaan Malam Lailatul Qadar

Dalam bulan Ramadan terdapat satu malam kemuliaan yang disebut Lailatul qadar. Nama itu berasal dari Firman Allah yang terdapat dalam surat Al Qadar (97) ayat 1-5 yang berbunyi:

"Innaa anzalnaahu fii laitatil qadar. Wa maa adraaka maa lailatul qadar. Lailatul qadri khairun min alfi syahr. Tanazzalul malaaikatu warruhu fiiha fi izni rabbihim min kulli amr. Salaamun hiya hattaa mathla'il fajr (Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur'an) pada malam kemuliaan (lailatul qadar). Malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu para Malaikat dan Jibril turun membawa perintah dengan izin Tuhan mereka. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar).


Imam Al-Nawawi yang nama lengkapnya Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria, yang dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, di Damaskus (Suriah) merangkum perbagai pendapat para pakar tentang Lailatul Qadar:

1. Lailatul qadar terjadi pada penghujung 10 malam terakhir dari bulan Ramadan. Pendapat itu mendasarkan perkataan Siti Aisyah bahwa Rasulullah SAW bersabda "carilah dan temukanlah lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadan (HR Muslim).

2. Lailatul qadar terjadi pada malam-malam ganjil bulan Ramadan.
Pendapat itu mendasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW: "Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan (HR Bukhari).

3. Lailatul qadar terjadi pada malam 21, 23, 27. Pendapat itu merujuk pada Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Al Tirmizdi bahwa "UBay bin Ka'ab bersumpah "lilatul qadar terjadi pada malam ke 27 Ramadan."

Keutamaan Lailatul Qadar

Para pakar telah banyak mengulas tentang keutamaan lailatul qadar.
Dari sekian banyak keutamaan lailatul qadar, diantaranya:

Pertama, malam penuh keberkahan.
Dalam Islam, ada hari yang dimuliakan karena terjadi peristiwa penting misalnya hari Jum'at. Hadis yang diriwayatkan Muslim, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: sebaik-baik hari adalah hari Jum'at, karena pada hari itulah Adam diciptakan, pada hari itu pula dia dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari pula dia dikeluarkan darinya".

Selain itu, terdapat pula bulan yang dimuliakan yaitu bulan Ramadan. Pemuliaan bulan Ramadan antara lain karena pada bulan itu diturunkan Alqur'an untuk menjadi petunjuk bagi umat manusia dan orang-orang yang bertakwa.

Hal itu, sesuai firman Allah dalam surat Ad Dukhan ayat 3-4 "Innaa anzalnaahu fii lailatin mubarakatin innaa kunnaa munziriin. Fiiha yufraqu kulla amrin hakiim" (sesungguhnya Kami menurunkan (Alqur'an) pada malam yang diberkati. Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu, dijelaskan segala segala urusan yang penuh hikmah).

Selain itu, Allah berfirman dalam surat Al Qadar ayat 1: "Inna anzalnaahu fii lailatil qadr" (sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alqur'an) pada malam kemuliaan

Kedua, lebih mulia dari 1000 bulan. Keutamaan lailatul qadar yang lain ialah beribadah pada saat turunnya lailatul qadar, sama dengan beribadah selama 1000 bulan yaitu 83 tahun, 3 bulan, 3 hari. Hal itu sesuai firman Allah dalam surat Al Qadar ayat 2 "Lailatul qadri khairun min alfi syahr (malam qadar itu lebih baik daripada seribu bulan).

Ketiga, diampuni dosa. Keutamaan lain daripada lailatul qadar ialah mereka yang banyak beribadah diantaranya pada malam qadar, Allah akan mengampuni dosa-dosa yang dilakukan pada masa dahulu. Maksudnya, pada hari perhitungan sesudah kiamat, manusia dibangkitkan dan dihimpun di padang mahsyar untuk dihisab atau ditimbang amal kebaikan dan keburukan, karena lebih banyak amal kebaikannya selama hidup di dunia, Allah mengampuni dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga.

Hal tersebut sesuai Hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Bukhari: "man qaama lailatul qadri iimanan wahtisaaban gufira lahu maa taqaddama min zanbih"(barang siapa melaksanakan salat pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu).

Perbanyak Ibadah

Salah satu hikmah yang bisa ditarik dari tidak dipastikannya turunnya lailatul qadar, supaya pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan, semakin ditingkatkan ibadah.

Adapun ibadah yang harus banyak dilakukan orang-orang beriman yang sedang berpuasa untuk meraih lailatul qadar antara lain:

Pertama, melakukan qiyamullail seperti salat traweh, salat tahajud, salat rawatib (salat lima waktu) dan salat sunat.

Kedua, membaca dan mendalami Alquran. Sesuai firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 185 bahwa Alqur'an diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia. Pada surat yang sama ayat 2, Allah menegaskan bahwa Alquran adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Supaya Alquran bisa menjadi petunjuk, pemandu, obor dan pemberi spirit bagi umat manusia khususnya umat Islam, maka Alquran harus sering dibaca, didalami dan dihayati makna dan kandungannya. Pada bulan Ramadan, sebaiknya Alquran ditamatkan (dikhatam) bacaannya minimal satu kali, maknanya dan isinya harus banyak didalami dan dihayati.

Ketiga, perbanyak infak, sedekah, bayar zakat fitrah dan zakal maal. Pada bulan Ramadan yang penuh dengan keberkahan, mereka yang sedang berpuasa, harus menyertai amal ibadah puasanya dengan banyak berinfak dan bersedekah pada sektor yang bisa memajukan kehidupan orang-orang miskin dan anak-anak yatim, seperti memberi beasiswa kepada mereka. Selain itu, para profesional harus membiasakan untuk membayar zakat profesi sebesar 2,5 persen setiap menerima uang. Disamping membayar zakat fitrah dan zakat harta setahun sekali.

Keempat, melakukan I'tikaf. Maksudnya, pada 10 malam terakhir dari bulan Ramadan, sangat baik dan mulia disisihkan waktu untuk I'tikat (berdiam) di masjid untuk membaca Alqur'an, zikir, salawat kepada Nabi Muhammad SAW, salat wajib, salat tahajud dan salat sunat lainnya.

Ketika I'tikaf, Nabi Muhammad SAW mengajarkan supaya membaca doa:
"Allahumma innaka afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu anni" (Ya Allah sesungguhnya Engkau maha pemaaf lagi maha mulia, menyukai permintaan maaf, maka ampunilah aku).

Kesimpulan

Pada bulan Ramadan turun lailatul qadar (malam kemuliaan). Untuk bisa menjumpai lailatul qadar, maka harus berlomba memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir daripada bulan Ramadan.

Kesalehan individual yang dibangun melalui pelaksanaan ibadah Ramadan dengan berpuasa (shaum) pada siang hari, yang diiringi dengan kewajiban melaksanakan salat rawatib (salat lima waktu) secara teratur, sangat dianjurkan untuk dilakukan qiyamullail pada malam hari seperti salat traweh, salat tahajud dan salat sunat lainnya.

Konsekuensi dari kesalehan individual, harus ditindaklanjuti dengan kesalehan sosial dengan melaksanakan kewajiban membayar zakat fitrah, zakat profesi, zakat harta (maal), infak dan sedekah serta berbagai perbuatan baik yang bisa menolong orang lain tanpa membedakan suku bangsa, ras dan agama.

Terwujudnya kesalehan individual dan kesalehan sosial, diharapkan memberi dampak positif bagi pelaksanaan pembangunan Indonesia yang lebih baik, sehingga mendorong percepatan kebangkitan dan kemajuan Indonesia.

0 Response to "Meraih Kemuliaan Malam Lailatul Qadar"