Pendidikan Karakter di Tengah Krisis Keteladanan
Rabu, 07 Januari 2026
Tulis Komentar
Pendidikan Karakter di Tengah Krisis Keteladanan
Berbagai persoalan yang muncul di dunia pendidikan hari ini—mulai dari rendahnya etika (akhlak) peserta didik, kekerasan verbal (bullying) di sekolah, hingga lunturnya rasa hormat kepada guru—sejatinya bukan semata persoalan akademik. Di balik semua itu, tersimpan masalah yang lebih mendasar: krisis keteladanan. Sekolah semakin sibuk mengejar angka-angka dan prestasi, tetapi sering kehilangan figur teladan yang seharusnya menjadi ruh pendidikan karakter.
Pendidikan karakter kembali digaungkan, namun implementasinya kerap berhenti pada slogan dan program seremonial. Spanduk nilai-nilai luhur terpajang di dinding sekolah, visi dan misi dirumuskan dengan bahasa indah, tetapi belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku keseharian. Ketika apa yang diajarkan tidak sejalan dengan apa yang ditampilkan, pendidikan karakter kehilangan maknanya.
Krisis keteladanan inilah yang membuat pendidikan karakter berjalan pincang. Anak-anak tidak hanya belajar dari buku dan nasihat, tetapi terutama dari contoh nyata. Mereka meniru guru, kepala sekolah, orang tua, bahkan tokoh publik yang mereka lihat setiap hari. Dalam konteks ini, keteladanan jauh lebih kuat daripada ceramah moral yang panjang.
Ironisnya, pendidikan karakter sering dibebankan pada mata pelajaran tertentu atau kegiatan insidental. Padahal, karakter tidak lahir dari hafalan nilai, melainkan dari pengalaman hidup yang berulang. Guru yang mengajarkan kejujuran, tetapi terbiasa mengakali administrasi, sering terlambat masuk kelas, tanpa sadar sedang menanamkan nilai yang bertentangan dengan esensi Pendidikan karakter. Kepala sekolah yang berbicara tentang disiplin, namun kerap abai terhadap waktu, sedang meruntuhkan pesan moral yang ingin dibangun.
Di era digital, krisis keteladanan semakin kompleks. Peserta didik hidup dalam arus informasi tanpa batas. Mereka menyaksikan perilaku tokoh publik yang viral di media sosial, tidak sedikit yang mempertontonkan sikap jauh dari nilai etika. Ketika sekolah gagal menghadirkan figur teladan yang kuat, peserta didik akan mencari rujukan lain, yang belum tentu mendidik. Inilah tantangan besar pendidikan karakter di tengah disrupsi teknologi.
Pendidikan karakter sejatinya bukan sekadar program, melainkan budaya hidup. Budaya menyapa, budaya mendengar, budaya menghargai perbedaan, dan budaya bertanggung jawab adalah bentuk konkret pendidikan karakter. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui pembiasaan yang konsisten, bukan melalui instruksi sesaat. Sekolah yang berhasil membangun budaya positif akan lebih efektif menanamkan karakter dibanding sekolah yang hanya mengandalkan aturan tertulis.
Sekolah sebagai institusi sosial memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem keteladanan. Kepala sekolah, sebagai pemimpin pendidikan, memegang posisi kunci. Kepemimpinan yang berintegritas, adil, dan humanis akan membentuk iklim sekolah yang sehat. Dari kepala sekolah, nilai-nilai itu mengalir ke guru, tenaga kependidikan, hingga peserta didik. Keteladanan pimpinan bukan sekadar simbol, melainkan fondasi budaya sekolah.
Guru, sebagai aktor utama di ruang kelas, memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan karakter siswa. Pendidikan karakter akan efektif ketika guru hadir sebagai pribadi yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, memiliki kekokohan spiritual dan kuat secara moral. Guru yang mampu mengelola emosi, menghargai pendapat siswa, dan bersikap adil, sejatinya sedang mengajarkan karakter tanpa perlu banyak kata.
Namun, pendidikan karakter tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Orang tua dan masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama besar. Ketika nilai yang diajarkan di sekolah tidak diperkuat di rumah, peserta didik akan mengalami kebingungan nilai. Diantara 7 kebiasaan anak Indonesia hebat seperti beribadah, bermasyarakat, tidur cepat, gemar belajar, makan makanan bergizi dan sebagainya juga harus mendapat support penuh di rumah. Sinergi antara sekolah dan orang tua menjadi keharusan agar pendidikan karakter berjalan searah dan berkelanjutan.
Dalam perspektif pendidikan Islam, adab bahkan ditempatkan lebih tinggi daripada ilmu. Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan, sementara adab tanpa ilmu kehilangan arah. Prinsip ini relevan untuk semua jenis sekolah, baik sekolah Islam maupun sekolah umum. Tujuan pendidikan sejatinya sama, yakni membentuk manusia yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.
Krisis keteladanan yang kita hadapi hari ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama. Apakah sekolah telah sungguh-sungguh menjadi ruang aman bagi tumbuhnya nilai dan karakter? Apakah pendidik telah menempatkan diri sebagai teladan, bukan sekadar pengajar? Pertanyaan-pertanyaan ini penting dijawab dengan jujur, bukan defensif.
Membangun pendidikan karakter memang bukan pekerjaan instan. Ia menuntut konsistensi, kesabaran, dan keberanian untuk memulai dari diri sendiri. Keteladanan mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat mendalam. Dari keteladananlah karakter tumbuh, dan dari karakterlah peradaban dibangun.
Pada akhirnya, pendidikan karakter di tengah krisis keteladanan hanya akan menemukan maknanya ketika sekolah kembali pada esensi pendidikan: memanusiakan manusia. Bukan sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi membentuk generasi yang berintegritas, berempati, dan bertanggung jawab. Sebab masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh seberapa pintar generasinya, melainkan seberapa kuat karakter mereka.
Belum ada Komentar untuk "Pendidikan Karakter di Tengah Krisis Keteladanan"
Posting Komentar