Negara-Negara Paling Rajin Membaca Buku di Dunia: Di Mana Posisi Indonesia?
Sabtu, 27 Desember 2025
Tulis Komentar
Membaca buku merupakan fondasi utama kemajuan peradaban. Bangsa yang warganya gemar membaca cenderung memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik, daya kritis yang tinggi, serta inovasi yang berkelanjutan. Hal ini tercermin dari data yang dirilis Kompas.com, bersumber dari Ceo World Magazine dan World Population Review, yang memetakan negara-negara paling rajin membaca buku di dunia berdasarkan jumlah jam membaca per tahun dan jumlah buku yang dibaca.
Peringkat Negara Paling Rajin Membaca Buku berdasarkan data tersebut, berikut gambaran global kebiasaan membaca di berbagai negara:
1. Amerika Serikat (AS)
357 jam/tahun dengan rata rata ±17 buku/tahun. Amerika Serikat menempati posisi teratas. Budaya literasi yang kuat, akses perpustakaan yang luas, industri penerbitan yang maju, serta kebiasaan membaca sejak usia dini menjadi faktor dominan tingginya angka ini.
2. India
352 jam/tahun dengan rata rata ±16 buku/tahun. India menunjukkan fenomena menarik. Meski menghadapi tantangan sosial-ekonomi yang besar, budaya belajar dan membaca—terutama untuk pendidikan dan peningkatan karier—sangat kuat di kalangan masyarakatnya.
3. Inggris Raya
343 jam/tahun dengan rata rata ±15 buku/tahun. Inggris memiliki tradisi literasi yang panjang. Perpustakaan publik, budaya diskusi buku, serta kuatnya literatur akademik dan sastra membuat membaca menjadi bagian dari gaya hidup.
4. Prancis
305 jam/tahun dengan rata rata ±14 buku/tahun. Prancis dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi intelektualitas dan kebudayaan. Membaca buku, terutama sastra dan filsafat, masih menjadi aktivitas penting masyarakatnya.
5. Italia
278 jam/tahun dengan rata rata ±13 buku/tahun. Italia mempertahankan tradisi literasi melalui pendidikan humaniora, sejarah, dan seni. Buku tetap menjadi sarana refleksi dan pembentukan karakter.
6. Kanada
232 jam/tahun dengan rata rata ±12 buku/tahun. Kanada menunjukkan keseimbangan antara literasi digital dan literasi buku. Dukungan negara terhadap perpustakaan dan pendidikan inklusif sangat kuat.
7. Rusia
223 jam/tahun dengan rata rata ±11 buku/tahun. Rusia memiliki sejarah panjang dalam dunia sastra dan filsafat. Meski era digital berkembang pesat, membaca buku cetak tetap bertahan.
8. Australia
217 jam/tahun dengan rata rata ±10 buku/tahun. Australia menunjukkan budaya membaca yang stabil, didukung oleh sistem pendidikan yang menekankan literasi kritis.
9. Spanyol
187 jam/tahun dengan rata rata ±9 buku/tahun. Spanyol masih menjaga budaya membaca, meskipun tantangan era digital mulai memengaruhi minat baca generasi muda.
10. Belanda
187 jam/tahun dengan rata rata ±8 buku/tahun. Belanda dikenal dengan sistem pendidikan progresif dan kebiasaan membaca yang cukup baik, meski tidak setinggi negara-negara teratas.
Indonesia: Peringkat 31 Dunia
129 jam/tahun
±5,91 buku/tahun
Indonesia berada di peringkat ke-31 dunia, jauh di bawah negara-negara maju. Angka ini menunjukkan bahwa rata-rata masyarakat Indonesia membaca sekitar 2,5 jam per minggu, dengan jumlah buku yang relatif sedikit dalam setahun.
Apa Maknanya?
Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin dari berbagai persoalan struktural:
Budaya literasi yang belum mengakar kuat.
Membaca belum sepenuhnya menjadi kebutuhan, masih sering diposisikan sebagai kewajiban akademik.
Dominasi konsumsi visual dan media sosial
Waktu luang masyarakat lebih banyak tersedot pada gawai, video pendek, dan hiburan instan.
Akses dan kualitas bahan bacaan yang belum merata.
Perpustakaan sekolah dan daerah belum sepenuhnya hidup dan menarik.
Minimnya teladan membaca di lingkungan keluarga dan sekolah.
Anak-anak jarang melihat figur dewasa yang gemar membaca.
Refleksi Pendidikan: Membaca Bukan Sekadar Kemampuan, tapi Budaya
Bagi dunia pendidikan Indonesia, khususnya sekolah dan madrasah, data ini menjadi alarm serius. Literasi membaca bukan hanya soal bisa membaca, tetapi:
memahami, mengkritisi, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan dan kebijaksanaan.
Sekolah idealnya menjadi episentrum gerakan literasi, bukan hanya lewat program formal, tetapi melalui:
keteladanan guru, pembiasaan membaca harian, integrasi literasi dalam semua mata pelajaran, serta penciptaan lingkungan sekolah yang ramah buku.
Data ini mengajarkan satu hal penting:
Kemajuan bangsa sangat berkorelasi dengan budaya membaca.
Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah besar. Namun dengan komitmen bersama—sekolah, keluarga, pemerintah, dan masyarakat—budaya membaca bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dibangun.
Karena sejatinya, bangsa pembaca adalah bangsa pemikir, dan bangsa pemikir adalah bangsa pemimpin masa depan.
Belum ada Komentar untuk "Negara-Negara Paling Rajin Membaca Buku di Dunia: Di Mana Posisi Indonesia?"
Posting Komentar