7 Contoh Kasus Krisis Literasi di Sekolah
Kamis, 15 Januari 2026
Tulis Komentar
Di sebuah SMP negeri, guru memberikan teks bacaan sepanjang dua halaman dan meminta siswa menuliskan ide pokok. Sebagian besar siswa mampu membaca dengan lancar, namun ketika ditanya makna bacaan, mereka hanya menyalin satu kalimat acak dari teks. Saat diminta menjelaskan dengan kata-kata sendiri, banyak yang terdiam. Kasus ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca masih bersifat mekanis, belum mencapai tahap pemahaman.
➡️ Gejala krisis literasi:
Membaca tanpa makna, hafal tanpa memahami.
2. Tugas Menulis Dikerjakan dengan Menyalin dari Internet
Dalam tugas membuat rangkuman atau esai sederhana, banyak siswa langsung menyalin teks dari internet tanpa membaca utuh isinya. Bahkan ketika hasil salinan itu mengandung istilah yang tidak dipahami, siswa tetap menyerahkannya. Saat ditanya arti kalimat yang ditulisnya sendiri, siswa tidak mampu menjelaskan.
➡️ Gejala krisis literasi:
Menulis tanpa berpikir, belajar tanpa proses.
3. Perpustakaan Sepi, Gawai Selalu Ramai
Di beberapa sekolah, perpustakaan telah tersedia dengan koleksi buku yang cukup memadai. Namun ruang tersebut jarang dikunjungi siswa. Sebaliknya, pada jam istirahat, siswa lebih memilih bermain gawai, menonton video pendek, atau bermain gim daring. Buku kalah bersaing dengan layar, dan budaya membaca perlahan tersingkir.
➡️ Gejala krisis literasi:
Minat baca kalah oleh budaya instan.
4. Jam Literasi Hanya Menjadi Rutinitas Formal
Program literasi 15 menit sebelum pelajaran dimulai dilaksanakan di banyak sekolah. Namun dalam praktiknya, siswa hanya diminta membawa buku dan membaca sendiri tanpa arahan. Guru sering kali sibuk dengan administrasi, sementara siswa membaca asal-asalan atau sekadar membuka halaman tanpa benar-benar membaca.
➡️ Gejala krisis literasi:
Literasi menjadi ritual, bukan budaya.
5. Kesulitan Menyampaikan Pendapat Secara Lisan
Dalam diskusi kelas, guru mengajukan pertanyaan terbuka terkait materi yang telah dibaca. Namun hanya sedikit siswa yang berani berbicara. Sebagian besar kesulitan menyusun kalimat, memilih kata, atau mengaitkan bacaan dengan pendapat pribadi. Diskusi pun berjalan pasif dan satu arah.
➡️ Gejala krisis literasi:
Lemahnya literasi berdampak pada komunikasi.
6. Ketergantungan pada Ringkasan dan Materi Siap Pakai
Banyak siswa lebih memilih membaca ringkasan singkat daripada sumber bacaan utama. Buku teks jarang dibaca utuh. Akibatnya, pemahaman siswa bersifat dangkal dan terpotong-potong. Mereka mengenal istilah, tetapi tidak memahami konsep secara menyeluruh.
➡️ Gejala krisis literasi:
Belajar instan, pemahaman minim.
7. Guru Kesulitan Mengajak Siswa Membaca Teks Panjang
Sebagian guru mengeluhkan rendahnya daya tahan membaca siswa. Ketika diberikan teks lebih dari satu halaman, siswa cepat kehilangan fokus dan meminta penjelasan langsung dari guru tanpa mencoba memahami bacaan terlebih dahulu.
➡️ Gejala krisis literasi:
Rendahnya stamina membaca dan berpikir mendalam.
Reflektif
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa krisis literasi di sekolah bukan sekadar persoalan fasilitas, melainkan persoalan budaya dan kebiasaan belajar. Siswa hidup di tengah banjir informasi, tetapi miskin pemaknaan. Tanpa intervensi serius dari sekolah, guru, dan keluarga, krisis ini akan terus membesar dan berdampak pada kualitas generasi masa depan.
Belum ada Komentar untuk "7 Contoh Kasus Krisis Literasi di Sekolah"
Posting Komentar