Da'wah Pendidikan inilah Jihad kita

Da'wah Pendidikan Inilah Jihad Kita

Taushiyah Dewan Pembina JSIT Indonesia
Dr. Fahmi Alydrus

Kiprah perjalanan da'wah JSIT yang sudah menapaki usia 14 tahun tentu patut disyukuri. Capaian dan prestasi gerakan da'wah berbasis pendidikan sejak dideklarasikan di Jogja th. 2003 ini terus menorehkan asa bagi kebangkitan umat.

Awalnya adalah forum kecil bernama Forum Shilaturahmi (Forsil). Sebuah forum yang mewadahi sekolah-selolah baru yang muncul dari idealisme mencipta generasi baru. Dan 10 tahun kemudian yaitu mulai 1993 hingga 2003, Forsil bermetaformosis menjadi sebuah network besar gerakan da'wah pendidikan bernama JSIT.

Begitulah, ibarat arus air yang bergerak menggelombang. Riak-riak kecil itu menjadi gelombang yang terus menerjang. Dari satu, dua sekolah, puluhan dan ratusan, kini hadir ribuan Sekolah Islam Terpadu yang menyebar dari Sabang sampai Merauke.

Kerja da'wah tentu belum selesai. Ini barulah langkah awal dari sebuah proses berkesinambungan, proses bagi sebuah proyek besar, "Mengulang Kembali Sejarah Kejayaan Islam".

Jadi, kiprah da'wah ini memang tak boleh berhenti. Mungkin ada banyak jawaban yang dapat diajukan untuk pertanyaan "Mengapa kita harus terus melangkah di jalan da'wah ini?" Barangkali ada sejumlah alasan yang bisa dibuat untuk mengungkap motif, "Apa sebab kita masih di sini, menghabiskan waktu kita mendidik generasi".

Tapi yakinlah, tidak ada alasan yang lebih  mendasar bagi penguatan tekad dan azam kita selain alasan-alasan rabbani. Nawaitu Lillah adalah power dan amunisi yang akan meneguhkan kaki-kaki kita dalam jihad pendidikan.

Inilah 3 alasan rabbani yang mengharuskan kita tetap di sini, di jalan da'wah ini. Berkarya, mencipta dan meramu sebuah generasi baru.

Pertama, sebagai bentuk istijabah / respon kita terhadap peringatan Allah yang disampaikan kepada kita (QS. An Nisa : 9)

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar".

Kedua, kerja mendidik dan mengajar adalah kerja melanjutkan estafeta da'wah para nabi. Sedangkan tugas yang diemban para nabi adalah yatlu 'alaihim ayatih (membacakan ayat-ayat-Nya), yuzakkihim (menyucikan jiwa), yu'allimuhumul kitab wal hikmah (mengajar Al-Quran dan Hikmah).

"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata" (QS. Al-Jumu'ah : 2)

Ketiga, sejarah mengajari kita, kejayaan peradaban umat selalu dimulai dari sini. Bahwa kekuatan umat selalu berbanding lurus dengan menguatnya sektor pendidikannya.

Mari belajar dari generasi Shalahuddin Al Ayubi sang pembebas Al Aqsha. Bukan hanya sekedar mengagumi sosoknya. Lalu mengkaji dan membedah biografi hidupnya. Namun yang jauh lebih penting dari itu adalah mendalami dengan serius bagaimana Jiil Shalahuddi' ini bisa hadir di tengah umat. Tentu ia tidak lahir begitu saja. Namun dihadirkan dari sebuah proses panjang. Proses yang menguras energi juang, menyita pikir dan memakan waktu yang tidak sebentar. (Baca lebih lengkap buku, "Hakadza Zhahara Jiil Shalahiddin")

Inilah alasan-alasan rabbani yang memaksa kita untuk tetap di sini. Berdiri mengokohkan kaki, berjuang dan terus berkarya mencipta generasi. Bukankah umat telah lama menanti kembali kehadiran Jiil Shalahuddin - Shalahuddin baru. Generasi Al-Ayyubi baru yang akan kembali merebut Al-Aqsha suci, membebaskan Palestina kita.

Munas4JSIT
Lombok, 29 Juli 2017

0 Response to "Da'wah Pendidikan inilah Jihad kita"