Berdua bukan untuk Mendua

BERDUA BUKAN UNTUK MENDUA

Tak jarang, ada lelaki yang kesepian dalam pelukan istrinya.Tak sedikit pula, istri yang gelisah dalam pangkuan suaminya.

Menikah bukan sekedar cinta, tapi ada yang lebih besar dari itu yakni ibadah. Ibadah itu jadi bernilai tatkala dikerjakan dengan niat yang benar, sesuai tuntunan, dan ikhlas. Begitupula dengan pernikahan. Pernikahan menghalalkan hubungan cinta sepasang manusia. Halal berduaan kemana saja, kapan saja, dan dimana saja. Berduaan ini menjadi bernilai di sisi Allah tatkala diniatkan dalam rangka keta’atan padaNya, mengikuti aturanNya, dan semata-mata mengharap keridhaanNya.

Berdua itu membawa ketenangan, kedamaian, dan ketentraman yang disebut sakinah. Tumbuhnya kasih yang disebut mawaddah. Berseminya perasaan sayang yang disebut rahmah. Tatkala ini hilang dari mahligai pernikahan, itu pertanda brokenhome (keluarga bermasalah).

Allah Swt berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum ayat 21)

Sebetulnya untuk apa sih menikah? Secara terperinci, setidaknya ada lima tujuan mulia dari sebuah pernikahan. Pertama, untuk memenuhi kebutuhan manusia yang paling asasi (seks, kasih, dan sayang). Kedua, Menjaga keberlangsungan manusia di muka bumi. Ketiga, untuk melahirkan generasi yang shalih shalihah. Keempat, mewujudkan keluarga islami. Kelima, mengamalkan Al Qur’an dan Sunnah Nabi.

MasyaAllah, begitu mulia islam mengatur umatnya. Begitu ketat islam menjaga umatnya dari perbuatan haram yakni zina. Bahkan dalam Qur’an sering kita temukan ayat ”Wa laa taqrabuz zinaa” (Janganlah engkau dekati zina). Zina itu didekati saja tak boleh, apalagi diperbuat. Kenapa islam begitu tegas melarang perzinahan? Sebab zina dapat menyebabkan rusaknya pertalian nasab (keturunan tak jelas), merusak moralitas (menyerupai binatang), merusak pergaulan sosial, memutus hubungan persaudaraan, menambah maraknya angka kriminal, dan lainnya. Na’uzubillah min zalik.

Semakin teranglah di benak kita bahwa berdua itu untuk bahagia. Bahagia sebagaimana do’a yang diajarkan oleh Allah kepada kita, “Rabbana aatina fid-dunya hasanah, wafil aakhirah hasanah, waqinaa azaabannaar.” Di dalam do’a itu ada visi akhirat, misi kesungguhan, dan harapan. Itulah kerangka bahagia yang kokoh, yang perlu disemai dalam bahtera keluarga kaum muslimin.

Sebaliknya, berdua bukan untuk mendua. Mendua pertanda ada masalah. Masalah yang tumbuh atas ketidakmantapan hati, penyelewengan pikiran, kedustaan yang dipelihara, dan cinta yang hampa. Seringnya hubungan seperti ini, dibangun atas pondasi syahwat belaka. Nafsu yang melimpungi diri, membuat akal tumpul tak berdaya. Memilih menikah karena godaan fisik semata, sementara ketulusan niat dan kemurnian cinta terabaikan. Hal ini penuh resiko di pertengahan usia pernikahan, atau saat tubuh mulai keriput. Wajah mengkerut. Badan tak menarik lagi. Maka sekali lagi saya ulang. Sikap mendua ini bahaya bila dipelihara, atau dibiarkan begitu saja juga merusak jiwa dan logika.

Sikap mendua ini bisa berwujud empat hal. Pertama, mulai kurang tertarik pada pasangan yang sah. Mudah marah, sensitif, jarang memuji, adanya ketidaknyamanan terhadap pasangan. Akibatnya, sering memicu keributan dengan pasangan.

Kedua, mulai mengagumi wanita/lelaki lain secara berlebihan. Sesekali membandingkan dengan pasangan yang sah. Sering menyebut-nyebut kebaikan lelaki lain. Memuji-muji kecantikan wanita lain. Diam-diam sering membuka sosmed perempuan/lelaki lain. Menyimpan foto/gambar wanita/lelaki lain. Akibatnya, bergelimang zina kecil.

Ingatlah bahwa Allah telah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (al-Israa’: 32)

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ketiga, mulai memburu lelaki/wanita lain. Tak jarang, ada lelaki yang kesepian dalam pelukan istrinya. Tengah malam chattingan dengan wanita lain, alias WIL (Wanita Idaman Lain). Tak sedikit pula, istri yang gelisah dalam pangkuan suaminya. Akhirnya, saat suami tak di rumah, ia pun bergerilya. SMS-an, telpon-telponan dengan teman lelakinya, alias PIL (Pria Idaman Lain).

Rasulullah Saw bersabda, ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim).

Keempat, mudah mengatakan pisah/cerai. Saat ada masalah kecil, ributnya tak kunjung usai. Kemudian dengan enteng berkata, “Baiklah, kalau begitu kita pisah saja.”. “Sepertinya bercerai lebih baik darpada bertengkar meluluh.” Ujar si istri/suami yang terkena penyakit ganas mendua ini.

Betul bahwa tak ada pasangan yang tak punya masalah, bahkan semua pasangan pernah bertengkar alias ribut. Namun, mereka dewasa dalam menyikapinya. Mereka mengedepankan kematangan akal dan jiwa. Cinta mereka selalu lebih besar ketimbang masalah besar yang ada. Sabar, menjadi jurus saktinya. Dengan itu, masalah semakin menambah kekuatan cinta mereka untuk bertahan. Sementara, si semprul tak punya rahasia ini. Akibatnya, begitu mudah mengatakan talaq (cerai).

Terakhir, ingatlah duhai semprul, bahwa Nabi kita telah berwasiat sejak 14 abad yang lalu. Janganlah mudah mengatakan cerai, sebab itu prestasi terbesar musuh manusia yang bernama iblis laknatullah ‘alaih.

Rasulullah Saw telah bersabda, “Dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda, “Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.'” (HR. Muslim 2813).

Yuk sahabat semua, mari kita wujudkan keluarga bahagia. Harmonis di dunia, bersama di surga.

(Sumber: http://alimargosim.blogspot.co.id/)

0 Response to "Berdua bukan untuk Mendua"