Membangun Peradaban Melalui Pendidikan

Prof. DR. Abdul ‘Alim Mursi, seorang pakar pendidikan di universitas Cairo Mesir pernah mengungkapkan, ”Jika anda ingin tahu kondisi akhlak dan moralitas suatu bangsa 10 atau 15 tahun yang akan datang, maka tengoklah kondisi dan realita mahasiswa/mahasiswi fakultas pendidikan di semua universitas negara tersebut!”.

Ungkapan pakar ini tentunya bukan sekedar bicara, melainkan hasil telaah yang mendalam dan perhatian yang berkelanjutan terhadap berbagai lembaga pendidikan, khususnya lembaga pendidikan yang memiliki output pelaku-pelaku pendidikan. Kesimpulan ini merupakan penegasan ulang terhadap peranan strategis pendidikan dalam setiap perubahan krusial.
Sebelumnya Jepang telah mengambil kesimpulan yang sama. Ketika negeri mereka hancur setelah pemboman Hiroshima dan Nagasaki, sampai-sampai sang kaisar menyatakan semua aset negara telah habis kecuali tanah dan air, maka kebijakan terpenting yang diambil adalah kewajiban belajar 15 tahun bagi rakyatnya dan prioritas penuh terhadap pendidikan. Hasilnya, dalam jangka waktu yang tidak lama Jepang berhasil menjadi sebuah negara industri besar dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Bahkan Amerika (sang pembom) kerepotan menghadapinya.

Amerika juga melakukan kebijakan yang sama. Di saat Uni Sovyet berhasil meluncurkan pesawat Sputnick ke luar angkasa, terjadilah “sputnick mania” di kalangan rakyat Amerika. Mereka geger, kenapa Uni Sovyet lebih dulu meluncurkan pesawat ulang aliknya? Kenapa kita ketinggalan? Presiden AS ketika itu langsung menginstruksikan kepada menteri pendidikan untuk meninjau ulang kurikulum pendidikan AS, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Revisi pun dilakukan. Hasilnya, tidak sampai 10 tahun AS berhasil mendaratkan manusia pertama di bulan.

Aku diutus adalah sebagai seorang pendidik”, begitu kata Rasulullah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Imam Ad Daarimi. Ungkapan Rasulullah ini memiliki pengertian yang sangat mendalam. Rasulullah saw ditugaskan oleh Allah untuk menyampaikan risalah Islam, mengajarkannya kepada para sahabat, memperbaiki aqidah dan moralitas mereka, membina dan membentuk masyarakat yang berperadaban tinggi, sambung-menyambung sampai akhir zaman. Beliau dijadikan Allah sebagai Rasul terakhir. Tidak ada kenabian lagi setelah beliau dan tiada wahyu lagi sepeninggal beliau. Semua agenda besar membangun peradaban tersebut dilaksanakan Rasulullah SAW dengan mendidik para sahabatnya.

Kerja-kerja dakwah yang dilakukan Rasulullah kemudian membuktikan bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk membangun sebuah peradaban. Generasi terbaik umat ini lahir dari produk Beliau. Para sahabat yang mengecap langsung pendidikan madrasah nabawiyah muncul sebagai sosok teladan dalam berbagai lini kehidupan. Kokoh dalam aqidah, tekun dalam ibadah, mulia dalam akhlak, militan dalam perjuangan, luas dalam wawasan, mandiri dalam kehidupan dan bermanfaat bagi orang lain serta menjadi rahmat bagi semesta alam. Hasil pendidikan Rasulullah ini tidak saja teruji dalam kondisi-kondisi normal, bahkan dalam momen-momen sulit justru mereka sangat konsisten dengan nilai-nilai pendidikan Rasulullah SAW.
Diantara bukti keunggulan produk tarbiyah Rasulullah pada diri sahabat di saat-saat sulit adalah ketika masyarakat Madinah goncang dengan fitnah yang menimpa istri Rasulullah SAW. Bahkan sebagian sahabat Beliau termakan provokasi kaum munafiqin tersebut. Di saat itu, terjadilah dialog antara istri Abu Ayyub Al Anshari dengan suaminya (keduanya merupakan shahabat anshar yang paling awal masuk Islam dan produk pendidikan Rasulullah). Ummu Ayyub bertanya kepada sang suami, “Wahai suamiku, seandainya kamu yang Shafwan, apakah kamu akan merusak kehormatan istri Rasulullah?”. Abu Ayyub menjawab, “Demi Allah, saya tidak akan pernah melakukannya”. Ummu Ayyub langsung menimpali, “Demi Allah, sesungguhnya Shafwan jauh lebih baik dari kamu, maka mustahil ia akan berbuat serong dengan istri Rasulullah”. Lalu ia melanjutkan: “Seandainya aku yang ‘Aisyah, niscaya aku tidak akan mengkhianati Rasulullah, sedangkan ‘Aisyah jauh lebih mulia dari pada saya, maka mustahil ia akan melakukan serong dengan Shafwan”. Dengan logika sederhana tersebut, seorang sahabat yang terdidik bersama Rasulullah tidak mudah termakan oleh isu dan propaganda.
Bila menengok realita pendidikan di Indonesia, maka kita akan bersedih. Sebab kita semakin tertinggal dari negeri-negeri tetangga yang notabene sama penduduknya dengan negeri ini. Tetapi mereka telah lebih maju dan berkembang meninggalkan kita. Universitas-universitas mereka berhasil menembus kelompok 500 besar universitas terbaik di dunia. Sementara tidak satupun universitas di Indonesia yang menembus kelompok 2000 universitas terbaik. Kampus-kampus perkuliahan di Malaysia dan Singapura menjadi pilihan utama sebagian siswa berprestasi di Indonesia.

Kualitas pendidikan tingkat SLTP dan SLTA kita juga masih sangat perlu pembenahan. Mulai dari kualitas akademik dan kurikulum, sarana-prasarana apalagi akhlak dan perilaku. Idealnya, pendidikan yang baik harus memenuhi kebutuhan spritual, intelektual, serta moral peserta didik. Konsep pendidikan kita belum mampu melahirkan generasi yang cerdas sekaligus soleh dan bermoral. Banyak siswa yang bagus dalam kualitas akademik, tetapi rendah dalam akhlak dan moral. Sebaliknya juga terjadi, berakhlak mulia tetapi kurang dalam kecerdasan. Cerita-cerita kecurangan dalam Ujian Nasional sudah menjadi rahasia umum, namun belum terjadi perubahan dan perbaikan. Malah, modus kecurangan semakin beragam.

Sudah saatnya bangsa kita membenahi pendidikan dengan serius dan sungguh-sungguh, agar Indonesia kembali menempati posisi terhormat bersama bangsa-bangsa lain di dunia. Pendidikan yang baik dan berkualitas harus menjadi pembicaran semua orang. Opini umum dan kegalauan semua pihak. Keseriusan pemerintah untuk mengalokasikan anggaran 20% untuk dunia pendidikan harus betul-betul jujur dan terlaksana. Masyarakat (baik individu maupun kelompok/LSM) juga harus berpartisipasi aktif dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Wallahu a’lam bishshawab.
Ust. H. Irsyad Syafar, MA.

0 Response to "Membangun Peradaban Melalui Pendidikan"