Surat Cinta Untuk Murabbi

Hari Ahad (06/05/2012) kembali saya diminta mengisi Studium General Sekolah Murabbi di Bantul, Yogyakarta. Ada banyak aktivis yang menganggap sedemikian sulit menjadi Murabbi. Mereka membayangkan hal-hal yang berat dan rumit dalam melaksanakan amanah sebagai Murabbi, dan pada saat yang bersamaan merasakan sejumlah kekeurangan dan kelemahan diri. Seakan-akan seorang Murabbi dituntut memiliki semua bidang keilmuan dan keahlian, yang sampai akhirnya seseorang bisa merasa dirinya tidak akan pernah bisa menjadi Murabbi selama-lamanya.

Apabila ditilik dari ruang lingkup makna tarbiyah, akan sangat mudah dipahami bahwa aktivitas tarbiyah tidaklah identik dengan proses mentransformasikan keilmuan semata-mata. Jika tarbiyah hanyalah peristiwa transformasi keilmuan, yang diperlukan memang sosok Murabbi yang menguasai dan mendalami seluruh ilmu. Jika ini yang dimaksud, maka ia adalah seorang pengajar atau mudaris, yang berkewajiban mentransfrer sejumlah ilmu kepada anak didiknya. Bukan seorang Murabbi.
Karena proses tarbiyah merupakan representasi dari kegiatan kolektif, maka kekuatannya terletak kepada sistem, bukan semata-mata kepada sosok pribadi Murabbi. Apabila seorang Murabbi tidak memiliki keilmuan yang luas dan mendalam, tersedia sejumlah sarana untuk melakukan pendalaman dan pengkayaan ilmu, misalnya dengan mengadakan daurah ilmiyah tsaqafiyah. Pada acara daurah itu bisa dihadirkan para ustadz yang memiliki kapasitas keilmuan sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan.

Sebagian aktivis merasa diri tidak layak membina, dengan alasan masih memiliki sejumlah kelemahan dan kekurangan. Argumen kelemahan diri seperti ini ditolak oleh para ulama terdahulu. Sa’id bin Jubair berkata, “Apabila orang tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar sampai dalam dirinya tidak ada sesuatu (hal yang tidak baik) niscaya tidak ada seorang pun yang menjalankan amar ma’ruf dan nahi munkar”.

Al Qurthubi juga mengatakan, “Orang-orang berilmu berkata, tidaklah termasuk syarat orang yang melakukan nahi munkar bahwa ia harus orang yang suci dari ma’siyat, tapi orang-orang yang mengerjakan ma’siyat itu melakukan nahi munkar terhadap sesama mereka… Sebagian ulama ushul berpendapat, diwajibkan atas para peminum khamr melakukan nahi munkar kepada sesama mereka”.
Berbagai unkapan di atas menggambarkan, betapa kelemahan atau kekurangan diri tidak bisa digunakan untuk menghindarkan diri dari kewajiban melakukan dakwah, amar makruf dan nahi munkar.

Dengan demikian, sesungguhnya menjadi Murabbi tidaklah sulit. Yang diperlukan adalah hal-hal berikut:
Kesediaan untuk berproses bersama dalam kebaikan sesuai mekanisme kejama’ahan
Kesediaan untuk berproses bersama para kader untuk mengoptimalkan berbagai potensi positif yang dimiliki
Kesungguhan untuk mengelola proses Tarbiyah dalam bingkai sistem
Kemauan yang kuat untuk senantiasa meningkatkan berbagai kapasitas diri
Pemahaman akan visi, misi, tujuan, tahapan, metoda serta sarana dalam Tarbiyah
Bukankah hal-hal tersebut tidak sulit? Mungkin, awalnya memang sulit. Akan tetapi pada saat anda mulai melakukan kegiatan tarbiyah, anda akan lebih bisa mendefinisikan bagian-bagian kesulitan yang dirasakan sehingga akan bisa meningkatkan diri pada titik lemah yang dimiliki. Kesulitan akan tidak pernah bisa didefinisikan bentuknya, kecuali setelah anda memulai. Maka, kunci pertama menyelesaikan kesulitan adalah, memulai.
Ya, mulailah proses menjadi Murabbi.
Sumber : http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=2331

0 Response to "Surat Cinta Untuk Murabbi"