Bapitaruah Ikan ka Kuciang: Krisis Kepercayaan dan Utang Pendidikan Kita
Sabtu, 29 Agustus 2026
Tulis Komentar
Di ranah Minang, ada satu ungkapan yang selalu membuat orang tua menahan napas ketika mendengarnya: bapitaruah ikan ka kuciang — menitipkan ikan kepada kucing. Bukan karena kucing itu jahat secara alamiah. Kucing memang begitu wataknya: bila diberi kesempatan dan tak diawasi, ia akan memakan apa yang dititipkan padanya. Maka pepatah ini bukan sekadar sindiran, melainkan peringatan tentang kesalahan menaruh amanah di tempat yang salah.
Hari ini, ungkapan itu terasa terlalu dekat dengan kenyataan kita.
Amanah yang Terus Menyusut
Rakyat menitipkan banyak hal kepada negara: keadilan kepada lembaga yudikatif, aspirasi kepada lembaga legislatif, dan harapan akan kesejahteraan kepada lembaga eksekutif. Ketiganya adalah ikan yang dititipkan dengan penuh kepercayaan, hasil dari kontrak sosial yang dibangun sejak republik ini berdiri.
Namun belakangan, kita menyaksikan pola yang berulang: pejabat yang tersandung kasus setelah dipercaya memegang jabatan, keputusan hukum yang terasa jauh dari rasa keadilan publik, wakil rakyat yang lebih sering terdengar membela kepentingan sendiri ketimbang menyuarakan yang diwakilinya. Ini bukan potret satu peristiwa, melainkan pola yang berulang di banyak lini kekuasaan.
Dan setiap kali pola itu berulang, ada satu hal yang ikut tergerus: kepercayaan. Bukan hanya kepercayaan kepada individu yang mengecewakan, tetapi kepercayaan kepada sistem itu sendiri — bahwa siapa pun yang dititipi amanah, cepat atau lambat, akan berlaku seperti kucing yang dititipi ikan.
Pertanyaan yang Jarang Diajukan
Di tengah kemarahan dan kekecewaan publik, ada satu pertanyaan yang jarang muncul ke permukaan: dari mana asal orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan itu?
Jawabannya sederhana — mereka semua pernah duduk di bangku sekolah. Mereka pernah dididik, diuji, diluluskan, bahkan sering kali dengan predikat cumlaude atau gelar dari institusi bergengsi. Sebagian besar pejabat yang hari ini mengecewakan publik bukanlah orang-orang yang gagal secara akademis. Justru sebaliknya — banyak dari mereka adalah produk pendidikan yang dianggap berhasil menurut ukuran konvensional: nilai tinggi, ijazah mentereng, gelar akademik berderet.
Maka pertanyaannya menjadi tajam: jika pendidikan kita benar-benar berhasil, mengapa hasilnya adalah orang-orang yang gagal menjaga amanah?
Ketika Sekolah Mencetak Otak, Bukan Menjaga Nurani
Ada yang perlu direnungkan ulang dari cara kita memaknai keberhasilan pendidikan. Selama ini, sekolah dan kampus kita cenderung diukur dari satu dimensi: kompetensi kognitif. Siapa yang paling pintar berhitung, paling fasih berargumen, paling tinggi nilainya — dialah yang dianggap paling berhasil.
Namun amanah bukan soal kecerdasan. Amanah adalah soal karakter. Dan karakter, sayangnya, jarang menjadi materi yang benar-benar diuji dan dihayati dalam sistem pendidikan kita. Ia sering hadir sebagai pelengkap — mata pelajaran budi pekerti yang berdiri sendiri, terpisah dari keseluruhan proses belajar, alih-alih menjadi napas yang menghidupi setiap mata pelajaran.
Dalam adat Minang, ada satu nilai yang begitu sentral: rasa malu. Malu di sini bukan malu dalam arti minder atau rendah diri, melainkan malu untuk berbuat khianat, malu untuk mengecewakan kepercayaan yang diberikan. Rasa malu semacam ini dulu ditanamkan bukan lewat kurikulum tertulis, melainkan lewat keteladanan — dari orang tua, dari mamak, dari lingkungan yang mengawasi dan menegur.
Pertanyaannya: masih adakah ruang bagi rasa malu semacam ini tumbuh di sekolah-sekolah kita hari ini, di tengah tekanan mengejar nilai ujian dan peringkat kelulusan?
Ijazah bisa dibeli dengan kerja keras menghafal. Gelar bisa diraih dengan kemampuan menjawab soal. Tetapi amanah, kejujuran, dan rasa malu untuk berkhianat — itu semua tidak diukur dalam rapor mana pun. Maka wajar bila kita mencetak generasi yang cakap secara teknis, namun rapuh secara moral.
Kepercayaan sebagai Modal, Pendidikan sebagai Ladangnya
Para pemikir sosial sering menyebut kepercayaan sebagai modal sosial — aset tak kasat mata yang menentukan apakah sebuah masyarakat bisa bekerja sama, membangun institusi yang kuat, dan hidup dengan tenang tanpa saling curiga. Ketika modal itu terkikis, biaya sosial yang harus dibayar sangat mahal: masyarakat menjadi sinis, partisipasi publik menurun, dan setiap kebijakan baik pun akan dicurigai motifnya.
Jika kepercayaan adalah modal, maka pendidikan seharusnya menjadi ladang tempat modal itu pertama kali ditanam. Bukan di ruang sidang, bukan di kantor pemerintahan — tetapi jauh sebelum itu, di ruang kelas, di rumah, di lingkungan tempat seorang anak pertama kali belajar apa artinya dipercaya dan mempercayai.
Sayangnya, ladang itu selama ini lebih banyak ditanami dengan bibit kompetisi dan orientasi hasil, ketimbang bibit integritas.
Dari Refleksi ke Langkah
Menyadari akar masalah ini semestinya membawa kita pada beberapa langkah konkret, bukan sekadar keluhan:
Pertama, pendidikan karakter dan integritas perlu diberi bobot yang setara dengan pendidikan kognitif — bukan sebagai mata pelajaran tempelan, melainkan terintegrasi dalam cara guru mengajar, menilai, dan memberi teladan di setiap mata pelajaran.
Kedua, keteladanan pemimpin pendidikan — kepala sekolah, dosen, rektor — perlu dijaga seketat penjagaan terhadap kualitas akademik. Sebab kurikulum tersembunyi yang paling kuat bukanlah yang tertulis di silabus, melainkan yang dilihat murid dari perilaku sehari-hari orang yang mengajarinya.
Ketiga, rekrutmen dan evaluasi pejabat publik semestinya tidak berhenti pada rekam jejak akademik dan kompetensi teknis, tetapi juga menelusuri rekam jejak integritas — sejauh mungkin ke belakang, termasuk bagaimana seseorang memperlakukan amanah-amanah kecil sebelum diberi amanah besar.
Sebab pada akhirnya, krisis kepercayaan yang kita rasakan hari ini bukanlah bencana yang datang tiba-tiba. Ia adalah tagihan panjang dari apa yang gagal kita tanamkan bertahun-tahun lalu di ruang-ruang kelas. Dan selama pendidikan kita masih sibuk mencetak otak tanpa menjaga nurani, jangan heran bila kita terus-menerus, tanpa sadar, bapitaruah ikan ka kuciang — menitipkan amanah bangsa kepada tangan yang belum tentu dijaga oleh rasa malu untuk berkhianat.
Belum ada Komentar untuk "Bapitaruah Ikan ka Kuciang: Krisis Kepercayaan dan Utang Pendidikan Kita"
Posting Komentar