Deep Learning di Sekolah: Jangan Sampai Istilah Baru, Praktiknya Lama


Deep Learning di Sekolah: Jangan Sampai Istilah Baru, Praktiknya Lama

Ada satu hal yang sering luput setiap kali dunia pendidikan memperkenalkan istilah baru: mengganti istilah jauh lebih mudah daripada mengubah kebiasaan.

Di ruang rapat, perubahan bisa berlangsung cepat. Dokumen kurikulum diperbarui, modul pelatihan disusun, seminar digelar, dan guru diperkenalkan dengan pendekatan pembelajaran yang baru. Namun ketika bel masuk berbunyi dan guru berdiri di depan kelas, persoalannya menjadi jauh lebih rumit.

Sebab pendidikan pada akhirnya tidak berlangsung di dalam dokumen. Pendidikan berlangsung dalam interaksi antara guru dan murid.

Kini istilah deep learning atau Pembelajaran Mendalam semakin akrab dalam percakapan pendidikan Indonesia. Pendekatan ini telah ditempatkan sebagai pendekatan utama dalam kebijakan kurikulum melalui Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 dan terus diperkuat dalam implementasinya sepanjang 2026. Pemerintah menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam bukan sekadar menghafal materi atau mengejar jawaban ujian, melainkan membantu peserta didik memahami konsep secara utuh, menghubungkan pengetahuan, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

Gagasannya sesungguhnya sangat penting.

Persoalannya bukan pada istilah deep learning. Persoalannya adalah: apakah perubahan pendekatan itu benar-benar mengubah pengalaman belajar anak di dalam kelas?

Ketika istilah berubah, tetapi kelas tetap sama

Bayangkan sebuah kelas.

Guru menjelaskan materi selama hampir satu jam. Murid mencatat. Sesekali guru bertanya, “Ada yang belum paham?” Hampir semua diam. Setelah penjelasan selesai, murid mengerjakan sejumlah soal. Besoknya, materi berikutnya dimulai.

Secara administratif, pembelajaran mungkin telah berlangsung dengan tertib. Tujuan pembelajaran tersedia. Materi tersampaikan. Tugas diberikan. Asesmen dilakukan.

Tetapi apakah pembelajaran sudah mendalam?

Belum tentu.

Pembelajaran mendalam tidak ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil diselesaikan guru. Ia justru ditentukan oleh seberapa jauh murid memahami apa yang dipelajari, mampu menghubungkannya dengan pengetahuan lain, menggunakannya dalam situasi nyata, dan merefleksikan proses belajarnya.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sendiri menekankan tiga prinsip utama Pembelajaran Mendalam: mindful, meaningful, dan joyful—berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Pada 2026, pemerintah kembali menegaskan bahwa yang perlu dikejar bukan sekadar banyaknya materi, melainkan kedalaman pemahaman peserta didik.

Dengan demikian, deep learning bukan sekadar mengganti nama metode mengajar. Ia menuntut perubahan cara memandang proses belajar.

Anak tidak cukup hanya tahu

Selama bertahun-tahun, sekolah sering terjebak pada logika sederhana: guru mengajar, murid menerima, kemudian murid diuji.

Model seperti ini memang dapat membantu memastikan sejumlah pengetahuan dasar dikuasai. Namun pendidikan tidak berhenti pada kemampuan mengingat.

Anak perlu bergerak dari “saya tahu” menuju “saya memahami”. Dari “saya memahami” menuju “saya mampu menggunakan”. Dan akhirnya menuju “saya mampu merefleksikan apa yang saya pelajari dan mengapa hal itu penting”.

Panduan Pembelajaran Mendalam yang dikembangkan pemerintah juga menempatkan pengalaman belajar dalam proses memahami, mengaplikasi, hingga merefleksi, dengan dukungan asesmen yang autentik dan holistik.

Di sinilah tantangan sebenarnya.

Mengubah pembelajaran dari sekadar menyampaikan informasi menjadi pengalaman belajar yang mendalam membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan satu atau dua hari.

Guru harus mampu merancang pertanyaan yang baik. Guru perlu menciptakan ruang bagi murid untuk berpikir. Asesmen harus mampu mengukur proses dan pemahaman, bukan hanya jawaban akhir. Materi pelajaran harus dihubungkan dengan persoalan kehidupan nyata.

Dan yang tidak kalah penting, murid harus diberi kesempatan untuk mengalami proses belajar, bukan hanya menerima hasil pemikiran gurunya.

Jangan sampai deep learning menjadi jargon baru

Kekhawatiran terbesar dalam setiap reformasi pendidikan adalah munculnya apa yang dapat disebut sebagai perubahan kosmetik.

Istilah baru masuk ke dokumen, tetapi kebiasaan lama tetap bertahan.

Kita pernah mengalami berbagai perubahan istilah dalam pendidikan. Ada pendekatan baru, model baru, perangkat ajar baru, bahkan berbagai istilah kompetensi baru. Namun tidak semuanya otomatis mengubah kultur belajar di kelas.

Hal yang sama bisa terjadi pada Pembelajaran Mendalam.

Guru dapat saja menuliskan kata mindful, meaningful, dan joyful dalam modul ajar. Tetapi jika pembelajaran masih didominasi ceramah, hafalan, pertanyaan dengan satu jawaban, serta asesmen yang hanya mengukur kemampuan mengingat, maka perubahan itu baru terjadi di atas kertas.

Penelitian terbaru mengenai implementasi Pembelajaran Mendalam di Indonesia menunjukkan bahwa tantangan tidak hanya berada pada pemahaman konsep, tetapi juga pada kesiapan guru dalam menerapkannya. Sebuah studi tentang guru IPA SMP di Cirebon yang melibatkan 39 guru, misalnya, secara khusus meneliti bagaimana guru memahami konsep deep learning dalam konteks reformasi pendidikan Indonesia.

Studi lain mengenai problematika guru dalam implementasi deep learning juga menunjukkan bahwa pendekatan ini menuntut pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan, dengan peserta didik sebagai aktor aktif dalam proses belajar.

Artinya, tantangan kita bukan sekadar membuat guru mengenal istilah deep learning. Tantangan yang jauh lebih besar adalah membantu guru mengubah praktik mengajarnya.

Guru juga perlu belajar ulang

Di titik ini, kita perlu berhati-hati agar tidak menjadikan guru sebagai pihak yang selalu dianggap sebagai sumber masalah.

Tidak adil meminta guru mengubah praktik pembelajaran jika sistem hanya memberi mereka instruksi baru tanpa dukungan yang memadai.

Guru membutuhkan contoh praktik yang konkret. Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, gagal, berdiskusi, mendapatkan umpan balik, dan mencoba kembali.

Pembelajaran Mendalam juga tidak seharusnya dipahami sebagai tambahan pekerjaan administratif baru.

Jika setiap pendekatan baru justru menghasilkan semakin banyak dokumen yang harus diisi guru, kita berisiko menciptakan paradoks: guru diminta menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, tetapi waktunya semakin banyak terserap untuk pekerjaan administratif.

Transformasi pedagogis membutuhkan pengembangan profesional yang berkelanjutan, bukan sekadar sosialisasi.

Guru tidak cukup diberi tahu apa yang harus dilakukan. Mereka perlu didampingi untuk memahami mengapa, bagaimana, dan dalam kondisi apa pendekatan tersebut dapat bekerja.

Kepala sekolah juga menentukan

Pembelajaran mendalam bukan hanya urusan guru.

Kepala sekolah memiliki peran penting dalam membangun budaya belajar di satuan pendidikan. Jika kepala sekolah hanya mengejar kelengkapan dokumen, guru akan cenderung mengejar dokumen.

Sebaliknya, jika kepala sekolah membangun budaya refleksi, kolaborasi, eksperimen, dan perbaikan berkelanjutan, guru memiliki ruang untuk berkembang.

Sekolah yang ingin menerapkan Pembelajaran Mendalam semestinya mulai bertanya:

Apakah guru memiliki waktu untuk merancang pembelajaran bersama?

Apakah guru mendapatkan kesempatan mengamati dan memberi umpan balik terhadap praktik rekannya?

Apakah asesmen yang digunakan sekolah mendorong kemampuan berpikir, atau justru membuat guru kembali pada latihan soal?

Apakah murid memiliki ruang untuk bertanya, berdiskusi, mencoba, melakukan kesalahan, dan memperbaiki pemahamannya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya apakah sekolah sudah “menerapkan deep learning”.

Dari mengejar materi menuju membangun pemahaman

Salah satu perubahan paling mendasar yang dibutuhkan adalah mengubah cara kita memandang keberhasilan pembelajaran.

Selama ini, kelas sering dianggap berhasil ketika guru mampu menyelesaikan seluruh materi dalam jadwal yang tersedia.

Padahal materi yang selesai belum tentu berarti pembelajaran yang berhasil.

Bayangkan seorang siswa belajar tentang pencemaran lingkungan.

Pendekatan lama mungkin berhenti pada definisi pencemaran, jenis-jenisnya, penyebab, dan dampaknya. Murid menghafal semuanya dan kemudian menjawab soal.

Pembelajaran mendalam akan membawa persoalan itu lebih jauh.

Murid dapat diminta mengamati persoalan sampah di lingkungan sekitar sekolah. Mereka mengumpulkan data, mencari penyebab, membandingkan informasi dari berbagai sumber, berdiskusi, menyusun solusi, kemudian merefleksikan apa yang mereka pelajari.

Materinya sama.

Tetapi pengalaman belajarnya berbeda.

Pada pendekatan pertama, murid terutama mengetahui tentang pencemaran.

Pada pendekatan kedua, murid menggunakan pengetahuan untuk memahami persoalan nyata.

Di situlah kedalaman pembelajaran mulai terlihat.

Jangan hanya mengubah cara mengajar, ubah pula cara menilai

Ada persoalan lain yang sering terlupakan: asesmen.

Sulit meminta guru menerapkan pembelajaran mendalam jika sistem penilaian masih sangat menekankan jawaban yang seragam dan kemampuan mengingat.

Jika yang dihargai hanya jawaban akhir, murid akan mencari cara tercepat memperoleh jawaban.

Sebaliknya, jika proses berpikir, argumentasi, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, kolaborasi, dan refleksi ikut dihargai, murid memiliki alasan untuk benar-benar belajar.

Karena itu, transformasi Pembelajaran Mendalam semestinya berjalan bersama perubahan cara sekolah menilai keberhasilan belajar.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Berapa nilai yang diperoleh siswa?”

Tetapi juga:

“Bagaimana siswa sampai pada jawaban itu?”

“Apakah ia mampu menjelaskan alasannya?”

“Apakah ia dapat menggunakan pengetahuan tersebut dalam konteks lain?”

“Apakah pembelajaran mengubah cara ia melihat persoalan di sekitarnya?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih dekat dengan esensi pembelajaran mendalam.

Masa depan pendidikan bukan tentang semakin banyak materi

Di tengah perubahan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan, pertanyaan tentang kedalaman belajar menjadi semakin penting.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia yang memungkinkan mereka memperoleh informasi hampir tanpa batas. Karena itu, sekolah tidak cukup hanya menjadi tempat untuk mendapatkan informasi.

Sekolah harus menjadi tempat anak belajar memahami, mempertanyakan, menghubungkan, mencipta, bekerja sama, dan mengambil keputusan.

Pembelajaran Mendalam dapat menjadi momentum untuk menuju ke sana.

Namun momentum tidak sama dengan perubahan.

Perubahan baru benar-benar terjadi ketika istilah yang ada dalam kebijakan turun menjadi pengalaman nyata di dalam kelas.

Karena itu, kita perlu memastikan deep learning tidak berhenti sebagai istilah yang terdengar modern, pelatihan yang ramai, atau kalimat indah dalam dokumen kurikulum.

Jangan sampai kita memiliki istilah baru untuk menggambarkan praktik lama.

Sebab pendidikan tidak berubah hanya karena kita mengganti nama pendekatannya.

Pendidikan berubah ketika cara anak belajar benar-benar berubah.

Dan mungkin, ukuran paling sederhana untuk mengetahui apakah Pembelajaran Mendalam benar-benar terjadi bukanlah seberapa sering guru mengucapkan istilah deep learning, melainkan apakah setelah keluar dari kelas, seorang anak membawa pulang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar jawaban soal: pemahaman yang melekat, pertanyaan yang baru, dan kemampuan untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda.

Itulah pembelajaran yang benar-benar mendalam.

Belum ada Komentar untuk "Deep Learning di Sekolah: Jangan Sampai Istilah Baru, Praktiknya Lama"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel