Ramadhan: Madrasah Jihad Diri, Jalan Sunyi Menuju Kemenangan Dakwah

Ramadhan: Madrasah Jihad Diri, Jalan Sunyi Menuju Kemenangan Dakwah

Ibnu Rajab rahimahullah pernah mengingatkan kita dengan ungkapan yang begitu dalam maknanya:

“Ketahuilah, bahwa seorang mukmin pada bulan Ramadhan akan menghadapi dua bentuk jihad terhadap dirinya sendiri: jihad pada siang hari melalui pelaksanaan puasa, dan jihad pada malam hari melalui ibadah qiyam (salat malam). Barang siapa mampu menggabungkan kedua jihad tersebut, menunaikan hak-haknya dengan sempurna, serta bersabar dalam menjalaninya, maka ia akan diberikan pahala secara sempurna tanpa batas perhitungan.”
(Lathā’if al-Ma‘ārif)

Pesan ini bukan sekadar nasihat ibadah, tetapi peta perjalanan ruh seorang mukmin. Ramadhan bukan hanya bulan amal, melainkan bulan perubahan. Ia adalah madrasah tempat jiwa ditempa, dilatih, dan dibersihkan — agar siap memikul amanah yang lebih besar dalam kehidupan, terutama amanah dakwah.

Di siang hari, kita berpuasa. Menahan lapar dan dahaga mungkin terlihat sederhana, tetapi hakikatnya ia adalah latihan besar untuk menundukkan keinginan terdalam manusia. Kita belajar mengatakan “tidak” — bukan hanya kepada yang haram, tetapi bahkan kepada yang halal demi ketaatan kepada Allah. Di sinilah jiwa mulai disucikan: ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri.

Di malam hari, kita berdiri dalam qiyamullail. Dalam sunyi, tanpa sorotan manusia, kita menghadap Allah dengan penuh harap dan takut. Air mata yang jatuh di sepertiga malam adalah saksi kejujuran iman. Qiyam bukan sekadar ibadah tambahan, tetapi ruang dialog antara hamba dan Rabb-nya — tempat hati diluruskan, niat dimurnikan, dan arah hidup diteguhkan kembali.

Dua jihad ini — puasa di siang hari dan qiyam di malam hari — bukanlah ibadah yang berdiri sendiri. Keduanya adalah satu kesatuan proses pembentukan diri. Puasa menguatkan kendali diri, sementara qiyam menguatkan hubungan dengan Allah. Puasa melatih keteguhan lahir, qiyam menumbuhkan kekuatan batin. Ketika keduanya berpadu, lahirlah pribadi yang utuh: kuat, sabar, dan ikhlas.

Inilah pelajaran besar bagi para pejuang dakwah. Kemenangan dakwah tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam. Ia tidak lahir dari kerasnya suara, tetapi dari bersihnya hati. Banyak orang ingin mengubah dunia, tetapi lupa menaklukkan dirinya sendiri. Padahal, kemenangan terbesar adalah ketika seseorang mampu mengalahkan ego, hawa nafsu, dan ambisi pribadinya.

Ramadhan datang untuk mengajarkan itu. Ia mengingatkan bahwa kelemahan dakwah seringkali bukan karena kurangnya strategi, tetapi karena rapuhnya jiwa. Ketika hati dipenuhi ego, ukhuwah menjadi retak. Ketika kenyamanan lebih diutamakan daripada amanah, perjuangan menjadi berat. Maka Ramadhan hadir sebagai momentum perbaikan — menyatukan kembali hati yang tercerai, meluruskan niat yang menyimpang, dan mengembalikan tujuan hanya kepada ridha Allah.

Puasa menumbuhkan empati. Ketika kita merasakan lapar, kita belajar memahami penderitaan orang lain. Dari sini lahir kepedulian sosial yang tulus, bukan sekadar formalitas. Sementara qiyam menumbuhkan keberanian. Seseorang yang terbiasa berdiri di hadapan Allah pada malam hari tidak akan mudah goyah menghadapi tekanan dunia di siang hari.

Perpaduan keduanya melahirkan pribadi yang lembut hatinya, namun kokoh prinsipnya. Ia penuh kasih kepada sesama, tetapi tegas dalam kebenaran. Inilah karakter yang dibutuhkan oleh setiap gerakan dakwah agar tetap hidup, kuat, dan relevan di tengah tantangan zaman.

Karena itu, Ramadhan bukan waktu untuk melemah, tetapi waktu untuk menguat. Bukan saatnya berhenti, tetapi saatnya mengisi ulang energi ruhiyah. Mungkin aktivitas lahiriah berkurang, tetapi kedalaman makna harus bertambah. Bukan banyaknya amal yang menjadi ukuran, tetapi perubahan diri yang menjadi tujuan.

Ibnu Rajab rahimahullah memberikan janji yang agung: siapa yang mampu menggabungkan dua jihad ini dengan sabar, maka ia akan mendapatkan pahala tanpa batas. Ini bukan hanya harapan bagi individu, tetapi juga bagi umat. Jika setiap pribadi menang atas dirinya, maka kemenangan yang lebih besar akan Allah bukakan.

Maka, wahai para pejuang dakwah…
jadikan Ramadhan sebagai titik balik perjalananmu.

Perkuat puasamu, agar lahir keteguhan.
Hidupkan malammu, agar tumbuh keikhlasan.
Satukan keduanya, agar terbentuk jiwa yang matang dalam perjuangan.

Sebab pada akhirnya, kemenangan dakwah tidak ditentukan oleh seberapa keras kita bersuara, tetapi seberapa dalam kita menundukkan jiwa.

Dan ketahuilah…
kemenangan terbesar bukanlah ketika kita mengalahkan orang lain,
melainkan ketika kita berhasil mengalahkan diri kita sendiri.

Alfaqier ilaa ‘afwi Rabbih

Belum ada Komentar untuk "Ramadhan: Madrasah Jihad Diri, Jalan Sunyi Menuju Kemenangan Dakwah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel