Etika Menyebar Berita

ETIKA MENYEBAR BERITA

Oleh: Irsyad Syafar

Aisyah radhiyallahu 'anha  pernah terkena fitnah yang sangat dahsyat. Tidak saja menguncang dirinya dan keluarga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, bahkan juga mengguncang kota madinah secara keseluruhan.

Fitnah keji ini bermula dari "tercecernya" Aisyah ra. dari rombongan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam saat perjalanan pulang dari perang Muraisi'. Rombongan pasukan sudah berangkat menuju Madinah. Sementara Aisyah ra. tertinggal di belakang karena mencari kalungnya yang hilang. Pasukan mengira Aisyah ra. ada di dalam tandu (sekedup) di atas punggung onta.

Aisyah ra. yang tertinggal di belakang ini kemudian dibawa sampai ke Madinah oleh seorang sahabat mulia Shofwan bin Al Mu'aththal As Sulami, dengan menunggang onta. Dalam posisi Shofwan menuntun onta dari bawah, dan Aisyah ra. berada di atas onta inilah mereka berdua memasuki kota Madinah.

Kejadian ini disaksikan oleh banyak penduduk Madinah, termasuk orang-orang munafiq. Kemudian kaum munafiqun itu menyebar berita fitnah. Seolah-olah Aisyah telah berselingkuh dengan Shofwan. Na'udzubillah min dzaalik.

Kota madinah gempar. Banyak sekali yang termakan issu busuk lagi hoax ini. Orang-orang munafiq sangat antusias menyebarkannya. Dan sebagian kaum muslimin terlibat pula dalam obrolan-obrolan tentang tema ini.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sangat terganggu. Bagaimana seorang istrinya yang mulia lagi suci, difitnah secara keji hanya karena kedapatan naik onta yang dituntun oleh laki-laki lain.

Akhirnya, Allah sendiri yang membersihkan nama baik dan kehormatan Aisyah ra. dengan turunnya surat An Nur ayat 11-20. Ayat-ayat ini memberi kecaman keras kepada kaum munafiqin yang membuat issu serta fitnah. Sekaligus juga ada teguran keras kepada kaum muslimin yang ikut termakan fitnah, yang tidak mengedepankan husnuzh zhon kepada sesama mukmin. Allah Ta'alaa berfirman:

لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ

Artinya: "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu, orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata". (QS An Nur: 12).

Rehabilitasi nama baik dari Allah ta'alaa ini telah menjadi kehormatan tersendiri bagi Aisyah ra. Sebab, langsung ayat-ayat langit (dari Allah) yang memulihkannya, dan kekal abadi dibaca sampai akhir zaman.

Yang menarik dari ending peristiwa fitnah bohong ini adalah adanya arahan Allah tentang bahaya dan hukuman yang berat bagi yang menyebarkan informasi perbuatan keji (zina dan kawan-kawannya) di tengah kaum muslimin. Allah Ta'alaa berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (19)

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui". (QS An Nur:  19).

Ayat ini memberikan pelajaran yang ditujukan kepada orang yang mendengar suatu perbuatan buruk atau tercela, lalu hatinya menanggapinya dan ingin membicarakannya. Maka, seharusnya ia tidak boleh membicarakannya. Apalagi menyiarkan dan menyebarkannya. Orang yang melakukan (penyiaran perbuatan dosa) itu mendapat ancaman adzab yang sangat pedih dari Allah Ta'alaa di dunia dan di akhirat.

Ancaman adzab yang pedih juga berlaku bagi orang yang merasa senang bila berita-berita perbuatan keji (maksiat fahisyah) itu tersebar di masyarakat.

Apalagi kalau ternyata berita yang disiarkan itu suatu kebohongan, penuh dusta, hoax atau direkayasa untuk menjatuhkan harga diri orang lain. Tentulah ancaman siksanya jauh lebih pedih dan lebih berat.

Para ulama tafsir menjelaskan bahwa hukuman di dunia ialah terkena had, berupa dicambuk dan sejenisnya. Sedangkan hukuman di akhirat adalah ditimpakan adzab neraka.

Arahan Allah ta'alaa ini memberikan pelajaran tentang etika dan adab dalam menyampaikan (membuat) berita atau informasi. Dimana Allah melarang penyebaran berita-berita perbuatan dosa. Apalagi yang bohong dan fitnah belaka. Sebab, penyebaran berita-berita maksiat yang semakin marak, justru membuat masyarakat semakin rusak. Dan lama kelamaan kemaksiatan terkesan menjadi biasa, bukan lagi suatu yang tercela.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam juga melarang keras tindakan mencari-cari kesalahan dan membongkar aib orang lain.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، حَدَّثَنَا مَيْمُونُ بْنُ أَبِي مُحَمَّدٍ المَرَئيّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبّاد الْمَخْزُومِيُّ، عَنْ ثَوْبَان، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا تُؤذوا عِبادَ اللَّهِ وَلَا تُعيِّروهم، ولا تطلبوا عَوَرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ طَلَبَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ، طَلَبَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، حَتَّى يَفْضَحَهُ فِي بَيْتِهِ"

Artinya: Imam Ahmad mengatakan: telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Maimun ibnu Musa Al-Mar'i, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abbad Al-Makhzumi, dari Sauban, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: "Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah dan jangan pula mencela mereka. Serta janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya yang muslim, maka Allah akan membuka­kan aibnya, hingga mempermalukannya di dalam rumahnya sendiri". (HR Ahmad).

Betapa nanti di akhirat hisab yang berat akan menimpa orang-orang atau lembaga yang pekerjaannya adalah membuat dan menyampaikan berita. Apalagi kalau dibalik berita tersebut, mereka mendapatkan sumber penghidupan dan kekayaan. Tentu hisabnya semakin berat dan panjang.

Wallahu A'laa wa A'lam.

0 Response to "Etika Menyebar Berita"