Panduan Puasa Ramadhan bagian 1


Panduan Shaum Ramadhan (1)*

*๐Ÿ“‹Definisi Shaum Ramadhan*

๐Ÿ“š  *Apa arti shaum?*

 Secara bahasa, berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

ุงู„ุตูŠุงู… ููŠ ุงู„ู„ุบุฉ ู…ุตุฏุฑ ุตุงู… ูŠุตูˆู…، ูˆู…ุนู†ุงู‡ ุฃู…ุณูƒ، ูˆู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: {ูَูƒُู„ِูŠ ูˆَุงุดْุฑَุจِูŠ ูˆَู‚َุฑِّูŠ ุนَูŠْู†ุงً ูَุฅِู…َّุง ุชَุฑَูŠِู†َّ ู…ِู†َ ุงู„ْุจَุดَุฑِ ุฃَุญَุฏًุง ูَู‚ُูˆู„ِูŠ ุฅِู†ِّูŠ ู†َุฐَุฑْุชُ ู„ِู„ุฑَّุญْู…َู† ุตَูˆْู…ًุง ูَู„َู†ْ ุฃُูƒَู„ِّู…َ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฅِู†ْุณِูŠًّุง } [ู…ุฑูŠู…] ูู‚ูˆู„ู‡: {ุตَูˆْู…ًุง} ุฃูŠ: ุฅู…ุณุงูƒุงً ุนู† ุงู„ูƒู„ุงู…، ุจุฏู„ูŠู„ ู‚ูˆู„ู‡: {ูَุฅِู…َّุง ุชَุฑَูŠِู†َّ ู…ِู†َ ุงู„ْุจَุดَุฑِ ุฃَุญَุฏًุง} ุฃูŠ: ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุช ุฃุญุฏุงً ูู‚ูˆู„ูŠ: {ุฅِู†ِّูŠ ู†َุฐَุฑْุชُ ู„ِู„ุฑَّุญْู…َู† ุตَูˆْู…ًุง} ูŠุนู†ูŠ ุฅู…ุณุงูƒุงً ุนู† ุงู„ูƒู„ุงู… {ูَู„َู†ْ ุฃُูƒَู„ِّู…َ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฅِู†ْุณِูŠًّุง}.

“Shiyam secara bahasa merupakan mashdar dari shaama – yashuumu, artinya adalah menahan diri. Sebagaimana firmanNya: (Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini") (QS. Maryam (19):26). firmanNya: (shauman) yaitu menahan diri dari berbicara, dalilnya firmanNya: (jika kamu melihat seorang manusia), yaitu jika kau melihat seseorang, maka katakanlah: (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah) yakni menahan dari untuk bicara. (Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini).

(Syarhul Mumti', 6/296.  Cet. 1, 1422H.Dar Ibnul Jauzi. Lihat juga Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/431. Lihat Imam Al Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/850)

 Secara syara', menurut Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, makna shaum adalah:

 ุงู„ุงู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ู…ูุทุฑุงุช، ู…ู† ุทู„ูˆุน ุงู„ูุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ، ู…ุน ุงู„ู†ูŠุฉ

“Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan dibarengi dengan niat (berpuasa).” (Fiqhus Sunnah, 1/431)

  Ada pun Syaikh Ibnul Utsaimin menambahkan:

ูˆุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุดุฑุน ูู‡ูˆ ุงู„ุชุนุจุฏ ู„ู„ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุจุงู„ุฅู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ، ูˆุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ูุทุฑุงุช، ู…ู† ุทู„ูˆุน ุงู„ูุฌุฑ ุฅู„ู‰ ุบุฑูˆุจ ุงู„ุดู…ุณ.
ูˆูŠุฌุจ ุงู„ุชูุทู† ู„ุฅู„ุญุงู‚ ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ุชุนุจุฏ ููŠ ุงู„ุชุนุฑูŠู؛ ู„ุฃู† ูƒุซูŠุฑุงً ู…ู† ุงู„ูู‚ู‡ุงุก ู„ุง ูŠุฐูƒุฑูˆู†ู‡ุง ุจู„ ูŠู‚ูˆู„ูˆู†: ุงู„ุฅู…ุณุงูƒ ุนู† ุงู„ู…ูุทุฑุงุช ู…ู† ูƒุฐุง ุฅู„ู‰ ูƒุฐุง، ูˆููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูŠู‚ูˆู„ูˆู† ู‡ูŠ: ุฃู‚ูˆุงู„ ูˆุฃูุนุงู„ ู…ุนู„ูˆู…ุฉ، ูˆู„ูƒู† ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ู†ุฒูŠุฏ ูƒู„ู…ุฉ ุงู„ุชุนุจุฏ، ุญุชู‰ ู„ุง ุชูƒูˆู† ู…ุฌุฑุฏ ุญุฑูƒุงุช، ุฃูˆ ู…ุฌุฑุฏ ุฅู…ุณุงูƒ، ุจู„ ุชูƒูˆู† ุนุจุงุฏุฉ

 “Ada pun menurut syariat, maknanya adalah ta’abbud (peribadatan) untuk Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Wajib dalam memahami definisi ini, dengan mengaitkannya pada kata taabbud, lantaran banyak ahli fiqih yang tidak menyebutkannya, namun mengatakan: menahan dari dari ini dan itu sampai begini. Tentang shalat, mereka mengatakan: yaitu ucapan dan perbuatan yang telah diketahui. Sepatutnya kami menambahkan kata taabbud, sehingga shalat bukan  semata-mata gerakan , atau semata-mata menahan diri, tetapi dia adalah ibadah.

(Syarhul Mumti',  6/298. Cet.1, 1422H. Dar Ibnul Jauzi)

๐Ÿ”‘ Dari definisinya ini ada beberapa point penting sebagai berikut:

๐Ÿ”น️Menahan diri dari perbuatan yang membatalkan
๐Ÿ”นHarus dibarengi dengan niat
๐Ÿ”นBertujuan ibadah kepada Allah Taala


๐Ÿ“š *Lalu, apa arti Ramadhan ?*

 Ramadhan, jamaknya adalah Ramadhanaat, atau armidhah, atau ramadhanun. Dinamakan demikian karena mereka mengambil nama-nama bulan dari bahasa kuno (Al Qadimah), mereka menamakannya dengan waktu realita yang terjadi saat itu, yang melelahkan, panas, dan membakar (Ar ramadh).  Atau juga diambil dari  ramadha ash shaaimu: sangat panas rongga perutnya, atau karena hal itu membakar dosa-dosa. (Lihat Al Qamus Al Muhith, 2/190)

 Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah mengatakan:

ูˆَูƒَุงู†َ ุดَู‡ْุฑُ ุฑَู…َุถَุงู†َ ูŠُุณَู…َّู‰ ูِูŠ ุงู„ْุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉِ ู†ุงุชِู‚ٌ  ، ูَุณُู…ِّูŠَ ูِูŠ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ุฑَู…َุถَุงู†َ ู…َุฃْุฎُูˆุฐٌ ู…ِู†َ ุงู„ุฑَّู…ْุถَุงุกِ ، ูˆَู‡ُูˆَ ุดِุฏَّุฉُ ุงู„ْุญَุฑِّ : ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ุญِูŠู†َ ูُุฑِุถَ ูˆَุงูَู‚َ ุดِุฏَّุฉَ ุงู„ْุญَุฑِّ ูˆَู‚َุฏْ ุฑَูˆَู‰ ุฃَู†َุณُ ุจْู†ُ ู…َุงู„ِูƒٍ ุฃَู†َّ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ {ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ} ู‚َุงู„َ : ุฅِู†َّู…َุง ุณُู…ِّูŠَ ุฑَู…َุถَุงู†ُ : ู„ِุฃَู†َّู‡ُ ูŠَุฑْู…ِุถُ ุงู„ุฐُّู†ُูˆุจَ ุฃَูŠْ : ูŠَุญْุฑِู‚ُู‡َุง ูˆَูŠَุฐْู‡َุจُ ุจِู‡َุง .

“Adalah bulan Ramadhan pada zaman jahiliyah dinamakan dengan ‘kelelahan’, lalu pada zaman Islam dinamakan dengan Ramadhan yang diambil dari kata Ar Ramdha yaitu panas yang sangat. Karena ketika diwajibkan puasa bertepatan dengan keadaan yang sangat panas. Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa, yaitu membakarnya dan menghapskannya. (Al Hawi Al Kabir, 3/854. Darul Fikr)

 Secara istilah (terminologis), Ramadhan adalah nama bulan (syahr) ke sembilan dalam bulan-bulan hijriyah, setelah Syaban dan sebelum Syawal. Ada pun bulan dalam artian benda langit adalah al qamar, dan bulan sabit adalah al hilaal.

๐Ÿ“š *Keutamaan-Keutamaannya*

 Sangat banyak keutamaan puasa. Di sini kami hanya paparkan sebagian kecil saja.

๐Ÿ“‹ *Berpuasa Ramadhan menghilangkan dosa-dosa yang lalu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

ูˆู…ู† ุตุงู… ุฑู…ุถุงู† ุฅูŠู…ุงู†ุง ูˆุงุญุชุณุงุจุง ุบูุฑ ู„ู‡ ู…ุง ุชู‚ุฏู… ู…ู† ุฐู†ุจู‡

 "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab,  maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu." (HR. Bukhari No. 38, 1910, 1802. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 3459)

Makna ‘diampuninya dosa-dosa yang lalu adalah dosa-dosa kecil, sebab dosa-dosa besar seperti membunuh, berzina, mabuk, durhaka kepada orang tua, sumpah palsu, dan lainnya- hanya bisa dihilangkan dengan tobat nasuha, yakni dengan menyesali perbuatan itu, membencinya, dan tidak mengulanginya sama sekali.  Hal ini juga ditegaskan oleh hadits berikut ini.

๐Ÿ“‹ *Diampuni dosa di antara Ramadhan ke Ramadhan*

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุตู„ูˆุงุช ุงู„ุฎู…ุณ. ูˆุงู„ุฌู…ุนุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุนุฉ. ูˆุฑู…ุถุงู† ุฅู„ู‰ ุฑู…ุถุงู†. ู…ูƒูุฑุงุช ู…ุง ุจูŠู†ู‡ู†. ุฅุฐุง ุงุฌุชู†ุจ ุงู„ูƒุจุงุฆุฑ

“Shalat yang lima waktu, dari jumat ke jumat, dan ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim No. 233)

๐Ÿ“‹ *Dibuka Pintu Surga, Dibuka pintu Rahmat, Dibuka pintu langit,  Ditutup Pintu Neraka, dan Syetan dibelenggu*

Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَ ุฑَู…َุถَุงู† ูُุชِّุญَุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ูˆَุบُู„ِّู‚َุชْ ุฃَุจْูˆَุงุจُ ุงู„ู†َّุงุฑِ ูˆَุตُูِّุฏَุชْ ุงู„ุดَّูŠَุงุทِูŠ

"Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu." (HR. bukhari No. 1800. Muslim No. 1079.  Malik No. 684. An Nasa’i No. 2097, 2098, 2099, 2100, 2101, 2102, 2104, 2105)

๐Ÿ“‹ *Orang berpuasa akan dimasukkan ke dalam surga melalui pintu Ar Rayyan*

Dari Sahl Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅِู†َّ ูِูŠ ุงู„ْุฌَู†َّุฉِ ุจَุงุจًุง ูŠُู‚َุงู„ُ ู„َู‡ُ ุงู„ุฑَّูŠَّุงู†ُ ูŠَุฏْุฎُู„ُ ู…ِู†ْู‡ُ ุงู„ุตَّุงุฆِู…ُูˆู†َ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู„َุง ูŠَุฏْุฎُู„ُ ู…ِู†ْู‡ُ ุฃَุญَุฏٌ ุบَูŠْุฑُู‡ُู…ْ ูŠُู‚َุงู„ُ ุฃَูŠْู†َ ุงู„ุตَّุงุฆِู…ُูˆู†َ ูَูŠَู‚ُูˆู…ُูˆู†َ ู„َุง ูŠَุฏْุฎُู„ُ ู…ِู†ْู‡ُ ุฃَุญَุฏٌ ุบَูŠْุฑُู‡ُู…ْ ูَุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„ُูˆุง ุฃُุบْู„ِู‚َ ูَู„َู…ْ ูŠَุฏْุฎُู„ْ ู…ِู†ْู‡ُ ุฃَุญَุฏٌ

“Sesungguhnya di surga ada pintu yang disebut Ar Rayyan, darinyalah orang-orang puasa masuk surga pada hari kiamat, tak seorang pun selain mereka  masuk lewat pintu itu. Akan ditanya: Mana orang-orang yang berpuasa? Maka mereka berdiri, dan tidak akan ada yang memasukinya kecuali  mereka. Jika mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup dan tak ada yang memasukinya seorang pun.

(HR. Bukhari No. 1797, 3084. Muslim No. 1152. An NasaI No. 2273, Ibnu Hibban No. 3420. Ibnu Abi Syaibah 2/424)

๐Ÿ”ธBersambung๐Ÿ”ธ

Panduan Puasa Ramadhan bagian 2

0 Response to "Panduan Puasa Ramadhan bagian 1"