Dinamika Terkini Kawasan Timur Tengah Pasca Reformasi 2011

Sebagaimana kita ketahui bahwa di kawasan Timur Tengah saat ini angin perubahan bahkan angin revolusi sedang berhembus di mana-mana. Secara umum, angin perubahan atau revolusi gerakan masyarakat ini muncul bukan atas inisiatif siapapun, tidak dimanage oleh siapapun pada awalnya. Semua muncul tidak direncanakan oleh siapapun dan sama sekali di luar prediksi. Perkembangan-perkembangan di Timur Tengah ini mendapatkan respon masyarakat global. Amerika Serikat, Uni Eropa, NATO, Rusia merespon perkembangan ini. Obama dalam satu kesempatan pernah menyatakan bahwa revolusi ini tidak akan menyisakan satupun negara-negara Timur tengah. Cepat atau lambat akan sampai, termasuk masyarakat di Arab Saudi pun meyakini bahwa suatu ketika di negeri merekapun akan terjadi perubahan. Ada sebuah guyonan di kalangan masyarakat Arab Saudi: “Kita sudah menampung Ben Ali, lalu sekarang menampung Ali Abdullah Shaleh. Sebentar lagi Basyar Asyad mungkin juga akan kita tampung. Kalau seluruh thaghut dunia kumpul di sini semua, tampaknya di sini juga bisa cepat meledak”.
Dinamika Negara-negara Teluk

Mungkin kita bertanya-tanya tentang kondisi negara-negara Teluk. Kelihatannya tenang-tenang saja, tetapi seperti bara dalam sekam. Memang di teluk itu pernah ada cetusan-cetusan revolusi perubahan, tapi sifatnya sektarian. Seperti di Bahrain, semua orang tahu bahwa yang menggerakkan demonstrasi adalah kelompok Syi’ah. Di Arab Saudi pernah ada gerakan protes, yaitu di Madinah yang juga dari kalangan Syi’ah. Karena gerakannya sektarian maka mudah dipadamkan. Negara-negara teluk kondisinya seperti itu. Kondisi ini lebih terasa lagi di daerah Najd (Riyadh) dan wilayah selatan Arab Saudi yang berbatasan dengan Yaman. Khusus Qatar, sikapnya unik. Melalui saluran Al-Jazeera yang berpangkalan di negara ini mereka mendukung dan mempromosikan revolusi, tapi tidak mau hal yang sama terjadi di negaranya. Maroko adalah negara arab yang terbanyak penduduk Yahudinya dan terbanyak menyumbangkan penduduk Yahudi yang hijrah ke Israel. Negara ini uniknya bergabung kepada Negara teluk. Di Yordan sudah mulai ada gerakan, tapi sifatnya menuntut pembentukan negara kerajaan yang sifatnya konstitusi (mamlakah dusturiyah), seperti model negara Inggris. Yang jelas, mengapa di kawasan teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman tidak ada pergerakan berarti, di antaranya ada dua sebab:

Pertama, negara-negara ini adalah negara kaya. Begitu melihat ada tuntutan reformasi dan revolusi, mereka mengeluarkan biaya besar-besaran untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bahkan seperti bagi-bagi uang. Umpamanya di Oman itu orang menganggur saja digaji. Di Saudi juga orang yang belum dapat kerja itu mendapatkan 2.000 riyal sebulan. Beasiswa dinaikkan, gaji guru dinaikkan. Uang perumahan dua kali lipat, gaji dinaikkan dua kali lipat. Bahkan gaji dalam setahun itu dinyatakan bukan dua belas bulan tapi empat belas bulan. Sampai-sampai untuk gerakan ini Saudi saja habiskan sepuluh milyar dolar. Lain dengan kasus Yaman, Mesir, Tunisia, mereka bukan negara kaya.

Kedua, komposisi penduduk. Di Negara-negara Teluk ini terjadi ketimpangan komposisi penduduk karena mayoritas dihuni oleh orang asing. Contohnya Kuwait berpenduduk 3 juta sedang warga aslinya hanya 600 ribu. Uni Emirat Arab berpenduduk 2 juta, warga aslinya 200 ribu (hanya 10%) sisanya kebanyakan warga India, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia. Penduduk Arab Saudi 50% adalah warga asing, terutama di dataran Hijaz yang meliputi Thaif, Mekkah hingga Madinah. Qatar jumlah penduduknya sekitar 300 ribu dan warga asli 75 ribu. Bahkan pernah ada joke, tapi ramai di Timur Tengah. Suatu ketika Amir Qatar pernah datang ke China untuk bertemu presidennya. Kemudian ia ditanya: ”Penduduk negara anda berapa?”. Dijawab 300 ribu dan yang asli sekitar 75 ribu. Kata presiden China, “Kenapa tidak dibawa ke sini semua untuk makan bersama dengan kita?” Masalah komposisi penduduk ini berakibat kurangnya energi untuk bergerak. Karena umumnya penduduk asing itu cuma pekerja yang hanya menumpang hidup.

Tunisia

Tunisia, sebagaimana beberapa negara Timur Tengah yang lain, kondisinya secara umum memang matang untuk memicu ledakan. Pemicu utamanya adalah tidak adanya tiga hal, yaitu: kebebasan; keadilan; dan kesejahteraan. Hal tersebut sudah menumpuk lebih dari empat puluh tahun, dari semasa Habib Bourguiba (25 July 1957 – 7 November 1987) sampai Zaenuddin bin Ali (November 7, 1987 – 14 January 2011). Selama itu, kekuatan diktator militer yang dipimpin Ben Ali ini sudah berhasil memukul seluruh lawan politiknya, termasuk dari harakah islamiyah seperti Hizbun Nahdhah. Seluruh pimpinan Hizbun Nahdhah dipenjara, partainya dibubarkan dan dijadikan partai terlarang. Pemimpinnya, Rashid al-Ghannushi diusir keluar atau tepatnya lari keluar dan tinggal di Inggris hingga 22 tahun.

Pemicu revolusi Tunisia pada awalnya ada seorang insinyur, Muhammad Bouazizi, yang tidak mendapatkan perkerjaan. Akhirnya bekerja sebagai pedagang kaki lima, menjual buah-buahan dan sayuran dengan gerobak dorong. Sebagaimana biasa, penjual kaki lima sering menjadi korban razia petugas kamtib. Ia ditangkap, barangnya disita dan dibawa ke Kantor Walikota Sidi Bousaid. Ia dan teman-temannya mendatangi Kantor Pemda protes dan meminta barang-barangnya dikembalikan. Dan kebetulan pejabat walikotanya itu seorang perempuan. Bouazizi sangat vokal mewakili teman-temannya untuk menuntut dikembalikan barang-barang yang disita. Tapi ia diperlakukan kasar sampai ditempeleng wajahnya oleh pejabat walikota. Karena tidak ada jalan lain untuk melawan kekuasaan yang demikian besar, ia melakukan protes dengan menyambar jerigen bensin dari pedagang bensin eceran, lalu menyiram dirinya dengan bensin dan membakar diri di depan kantor walikota sampai meninggal. Aksi yang dilakukan setelah shalat Jum’at, 17 Desember 2010 itu menyulut aksi dan demonstrasi besar-besaran di kota Sidi Bousaid. Dari sinilah revolusi Tunisia meledak.

Semua meledak tanpa ada perencanaan. Akhirnya ledakan revolusi ini berhasil menjatuhkan Ben Ali. Seorang Bouazizi menjatuhkan Presiden Tunisia, Ben Ali. Ben Ali kemudian lari ke luar negeri pergi mencari suaka politik. Pesawatnya berputar-putar terbang di atas Eropa selama 8 jam, tapi tidak ada yang mau menerima. Akhirnya pemerintah Arab Saudi mau menerimanya setelah ia terbang selama 8 jam tanpa tujuan yang jelas.

Alhamdulillah reformasi dan revolusi di Tunisia bergulir cepat. Kelompok-kelompok yang tadinya ditindas oleh Ben Ali tumbuh kembali. Baik dari komunis, sosialis, sekuler, nasionalis, semuanya tumbuh subur. Rashid Ghanouchi, yang selama 20 tahun mengungsi ke Eropa kembali ke Tunisia. Saat kembalinya, beliau disambut di airport oleh masyarakat luas sampai puluhan ribu. Jumlah tersebut fantastis dan luar biasa untuk skala Tunisia, karena jumlah penduduknya hanya sepuluh juta. Partai penguasa, yaitu Hizb Tajammu’ Dusturi (Partai Perkumpulan Konstitusi) telah dibubarkan. Inilah kelebihan reformasi di Tunisia yang dapat membubarkan partai penguasa.

Sekarang, kondisi angin kebebasan politik itu luar biasa, termasuk kebebasan dakwah. Namun secara umum, ekonomi Tunisia yang berbasiskan wisata itu ambruk. Pertumbuhan ekonominya minus. Dahulu pertumbuhannya sekitar 5-6%. Kondisi keamanan pun kacau. Karena polisi-polisi dahulu digunakan sebagai alat represi dan memberangus demonstrasi atau membunuh demonstran sehingga terjadi kebencian luar biasa kepada polisi. Akhirnya pihak polisi ini tidak berani tampil dalam pengelolaan keamanan. Banyak yang mengundurkan diri dan masyarakatpun tidak mau menerima kehadiran mereka. Di sisi lain, partai penguasa yang dibubarkan mengacaukan situasi dengan menumbuhkan premanisme, istilah arabnya balthajiyah.

Mesir

Gejolak di Tunisia yang berhasil tuntas dengan cepat, juga merembet ke Mesir. Di Mesir tidak ada pemicu seperti kasus Bouazizi. Kondisi di Mesir juga sama dengan Tunisia karena ekonominya tertumpu kepada wisata. Ekonominya cukup parah kondisinya. Partai berkuasanya yang dibubarkan juga mengembangkan premanisme di mana-mana.

Saat ini kepolisian belum berperan. Kalaupun ada dan baru mulai, itu polisi lalulintas. Yang lain-lain posnya kosong. Yang berperan memegang manajemen pasca kejatuhan Mubarak ini adalah Dewan Tinggi Militer (Majelis A’laa al ‘Asykariy). Dewan itu, walaupun sejak awal mengatakan pro-demonstran, pro-reformasi dan pro-revolusi (tsaurah), bagaimanapun juga ada usaha-usaha (dengan banyak pihak lainnya) untuk membatasi tuntutan perubahan.

Untuk mengelola peluang politik ini, Ikhwanul Muslimin sudah mendirikan partai yang bernama Hizbul Hurriyah wal ‘Adaalah (Partai Kebebasan dan Keadilan). Ketuanya adalah DR. Muhammad Mursi, dahulu menjabat ketua fraksi di Mesir. Wakilnya DR. Essam Al Urian, sekjennya DR. Muhammad Sa’id Katatni. Partai dideklarasikan sebagai partai terbuka bagi seluruh rakyat Mesir (kecuali mantan anggota partai penguasa lama) termasuk masyarakat Kristen Qibthy (koptik). Sebagai partai terbuka, sama haknya antara muslimin dan masihiyyiin untuk masuk di partai dan untuk menempati jabatan apapun di dalam partai ini jika terpilih oleh syuro. Kebijakan Ikhwan tidak akan mencalonkan pada periode ini untuk menjadi presiden, walaupun menang pemilu. Diumumkan juga PKK tidak akan mendirikan negara agama, tapi negara madani.

Libya

Revolusi juga merembet ke Libya. Di Libya peran kabilah sangat besar. Termasuk dalam melakukan perlawanan militer, mengingat kabilah di sana bersenjata, selain juga militer banyak yang bergabung. Militer regular di Libya justeru tidak terlatih. Peralatannya juga tidak dimodernisasi oleh Qadhafi. Ia hanya memodernisasi lima brigade yang dipimpin langsung oleh anak-anaknya baik peralatan maupun pelatihannya. Brigade inilah yang menjadi andalan Qadhafi dalam menghadapi demonstran. Adapun pasukan regular lainnya sudah bergabung dengan demonstran. Kekuatan andalan lainnya dari Qadhafi adalah pemberontak di seluruh dunia yang pernah ia bantu selama empat puluh dua tahun berkuasa. Qadhafi menjadi pionir dalam pembiayaan atau mendukung pemberontakan-pemberontakan, atau siapapun yang memberontak di berbagai belahan dunia. Mau islam, kanan, kiri, komunis, semua didukung, dipersenjatai, dan dibiayai olehnya. Sekarang sepertinya mereka ditagih balas budi. Para pemberontak di Negara Afrika dan Eropa Timur diminta untuk mengirimkan pasukannya dan dibiayai, dikirimi pesawat atau apapun untuk menjadi tentara bayaran. Mereka semua sudah terlatih. Qadhafi mempunyai stok senjata yang banyak yang biasa untuk mensuplai para pemberontak. Sekarang ini perang terjadi antara gerakan revolusi (pasukan regular) melawan lima brigade plus tentara bayaran yang berasal dari daerah-daerah pemberontakan di seluruh dunia ini.

Walaupun begitu, di sisi lain, alhamdulillah NATO masuk. Kepentingannya hanya mengamankan infrastruktur minyak yang memang kebanyakan milik Negara-negara Barat termasuk di daerah Bulan Sabit. Kalau dilihat peta terutama bagian pantai Libya itu ada ceruk yang seperti bulan sabit yang merupakan daerah minyak. Infra struktur minyak itulah yang diamankan oleh Negara-negara Barat karena milik perusahaan-perusahaan barat. Jadi walaupun dalihnya kemanusiaan karena banyak yang terbunuh di Libya, tetapi esensinya sebenarnya menjaga infrastruktur industri minyak Libya yang memang banyak milik mereka. Kedatangan NATO cukup membantu dalam menghancurkan kekuatan-kekuatan Qadhafi yang sekarang ini sudah lebih terisolir di wilayah barat, yaitu di daerah Tripoli dan kota kecil di sekitarnya, terutama di wilayah Babul ‘Aziziyah. Tapi sekarang Babul ‘Aziziyah pun sudah sering dibombardir walaupun secara selektif mengingat di sana masih ada penduduk dilarang keluar untuk dijadikan tameng manusia.

Saat ini para revolusioner sudah membentuk pemerintahan dewan transisi nasional, dipimpin oleh Menteri Kehakiman yang membelot Muhamad Alaky. Menteri-menteri Qadhafi sudah banyak yang membelot, diantaranya Menteri Perminyakan.

Yaman

Revolusi Tunisia merembet ke Yaman sejak empat bulan yang lalu. Penggerak utama perubahan di Yaman berpusat pada Kabilah Hasyid. Kabilah ini dahulu dipimpin oleh keluarga Abdullah Al-Ahmar dan termasuk salah satu kabilah besar di Yaman. Sekarang kabilah ini dipimpin oleh anaknya yang bernama Shodiq al-Ahmar. Kabilah Hasyid ini bersenjata. Setelah rumah Shadiq al-Ahmar dirudal oleh Ali Abdullah Shaleh, kabilah ini melakukan perlawanan bersenjata.

Dalam koran-koran di Indonesia, ditulis berita bahwa istana dirudal oleh pihak Hasyid. Padahal peristiwa sebenarnya tidak seperti itu. Karena sudah terjadi pertempuran sengit, maka loyalitas masyarakatnya kembali kepada kabilah. Rupanya di dalam pasukan pengawal istana ada unsur Hasyid yang kemudian meledakkan salah satu bangunan di komplek istana. Jadi ledakan bukan dari tembakan rudal, melainkan diledakkan dari dalam. Ali Abdullah Shaleh menuduh Hasyid sebagai pelakunya.

Dalam ledakan tersebut delapan pejabat teras; presiden, perdana menteri, ketua DPR, ketua Majelis Syuro dan pejabat-pejabat tinggi terluka berat. Termasuk di dalamnya Ali Abdullah Shaleh, badannya 40% luka bakar, luka terkena pecahan bom yang menusuk rusuk sebelah kiri menembus antara jantung dan paru-paru sampai mengenai paru-paru sebelah kiri. Karena luka itu paru-paru kirinya mati dan tidak berfungsi. Ia lari ke Arab Saudi, bahkan di jemput oleh pesawat Saudi. Sekarang dirawat di rumah sakit militer Riyadh. Walaupun di media sementara mengatakan beberapa hari lagi sembuh, sebetulnya belum tentu sembuh dalam setahun. Kemungkinan Ali Abdullah Shaleh untuk kembali ke Yaman sangat kecil saat ini. Karena itu Amerika mengatakan akan mendorong adanya peralihan kekuasaan secara damai dengan segera.

Selama 33 tahun berkuasa, Ali Abdullah Shaleh tidak melaksanakan tugas konstitusi untuk mengangkat wakil presiden. Baru di akhir-akhir, setelah dituduh diktator karena tidak mau ada wakil, ia mengangkat wakilnya. Dipilih orang yang lemah yaitu Abdul Rabb Al-Mansyur, merupakan pilihannya terakhir sesudah didemo. Wakil presiden ini ditunjuk untuk menggantikan sementara kekuasaan di Yaman, tapi ditolak oleh demonstran. Demonstran meminta supaya segera bentuk majelis transisi (Majelis Intiqoly).

Syiria

Revolusi di Syiria sudah berlangsung sejak tiga bulan terakhir. Pencetus demonstrasi di Syiria dimulai dari komunikasi seorang guru perempuan sebuah SMP yang berteleponan dengan teman-temannya di Mesir. Kata temannya di Mesir, “Alhamdulillah Husni Mubarak sudah turun”. Guru perempuan itu menjawab,”Mudah-mudahan di sini juga begitu”. Rupanya telponnya itu disadap. Si ibu guru ini ditangkap dan digunduli rambutnya. Kebetulan di provinsi daerah itu panglima keamanannya juga saudara sepupu dari Basyar Asad.

Ibu guru ini berasal dari keluarga yang cukup dikenal dan kabilahnya besar. Kabilahnya langsung protes. Uniknya, yang mula-mula protes dalam bentuk demonstrasi justeru murid-muridnya di SMP. Demonstrasi dengan mencorat-coret dinding kota dengan kalimat-kalimat slogan revolusi yaitu “Asy-Sya’bu yuriid isqaathun nizham – الشعب يريد إسقاط النظام “ (rakyat ingin menjatuhkan rezim ini). Anak-anak SMP itu ditangkap, disiksa, dipenjara sampai ada yang meninggal namanya Hamzah al Khathib yang masih berusia 13 tahun. Inilah yang kemudian meledakkan protes besar-besaran. Para orang tua ramai-ramai mendatangi markas keamanan untuk meminta anak-anaknya dibebaskan. Tapi malah ditantang petugas keamanan dengan mengatakan: “Hari ini saya menangkap anak-anak kalian, nanti besok istri-istri kalian saya tangkapi”. Rupanya kepongahan ini membuat ledakan jadi lebih besar lagi.

Perlu diketahui dari segi komposisi kependudukan, kalau di Tunisia sunni-maliki, di Mesir sunni campur antara maliki dan syafii, Yaman mayoritas Sunni – Syafi’i, di Syiria yang penduduknya 22 juta, mayoritas sunni-hanafi dan banyak ulamanya, tetapi kekuasaan dipegang oleh ekstrimis syi’ah yang disebut Ghulaathu Syi’ah Nusyairiyah. Jumlah mereka 8% atau sekitar 2 juta. Akan tetapi satu-satunya partai berkuasa, yaitu Partai Ba’ats diisi oleh Nusyairiyah. Mereka menguasai partainya, menguasai militer, menguasai intelejen dan menguasai pemerintahan secara umum. Jadi pemerintahannya bersifat sektarian, thaaifiyah. Dengan kebangkitan revolusi ini, sudah barang tentu mereka mengkalkulasi ulang kekuatan. Jika revolusi ini berhasil, bukan saja jatuhnya Basyar Asyad atau pemerintahan Syiria, tapi juga jatuhnya Thaifah Nusyairiyah. Maka mereka menghadapi demonstran dengan logika Hamaa dan Haaliiq pada tahun 1982. Sekarang terjadi pembantaian setiap hari di sana dan sekitar 50 hingga 100 tewas setiap hari.

Di militer, prajuritnya kebanyakan sunni. Beberapa di antara sunni sudah bisa mencapai pangkat setinggi kolonel. Sesudah prajurit sunni mengumumkan bergabung dengan revolusi dan demonstran, mereka dikepung dan banyak yang dibunuh. Bahkan setiap tentara yang menolak diperintah untuk menembak rakyat tidak berdosa, ditembak mati. Baru beberapa yang lalu di perbatasan Turki, daerah Syuhur, 120 orang tentara yang membelot dibunuh oleh temannya sendiri karena tidak mau menembaki demonstran yang lari masuk ke perbatasan Turki.

Pemerintahan Turki membuka diri tidak menutup perbatasan. Pengungsi masuk bebas dan ditampung di sana melalui perbatasan Syuhur. Tampaknya Syiria akan menelan korban banyak seperti di Libya. Bahkan mungkin akan memperlakukan demonstran seperti Libya. Hanya saja di Libya kaum perlawanan memiliki senjata, sedangkan di Syiria tidak punya senjata. Kita tidak tahu apakah Barat atau NATO akan dapat mandat dari Dewan Keamanan PBB atau tidak. Saat ini masalah Syiria sudah mulai dibahas di Dewan Keamanan atas pengajuan Perancis dan Inggris. Belum diketahui apakah akan diperlakukan seperti Libya atau tidak.

Inilah perkembangan di Syiria yang kondisinya sangat sulit, kecuali kalau terjadi intervensi seperti di Libya. Tapi alasan riil untuk intervensi seperti di Libya seperti adanya infrastruktur perusahaan minyak, di Syiria tidak ada. Syiria adalah negara yang tidak punya minyak. Jadi sampai sekarang pun sulit diperkirakan apa benar Barat mau masuk karena tidak ada kepentingan bagi mereka. Bagi kelompok Nusyairiyah kondisi Syiria saat ini dianggap penentuan hidup atau mati. Pokoknya logika bahasa jawanya “TIJI TIBEH” mati siji mati kabeh. Mereka main tembak saja, tidak melihat perempuan, laki, tua, muda, anak-anak semua disikat saja.

Irak

Peta kependudukan Irak mayoritas sunni. Namun sunninya terpecah antara dua kubu, yaitu kubu Arab dan kubu Kurdi. Kalau sunni Kurdi dan Arab bersatu maka akan jadi mayoritas sekitar 60% lebih. Cuma Sunni Kurdi dan Sunni Arab terpisah sendiri-sendiri, sementara Syi’ah bersatu. Ini yang membuat posisi sunni lemah.

Syi’ah bersatu ditambah backup dari Iran. Kalangan Syi’ah itu sangat mengobarkan semangat thaaifiyah, semangat sektarian. Kemudian juga mengangkat kebanggaan kejayaan Parsi. Karena Irak memang, sebelum perang Qadisiyah dan futuh Qadisiyah berada di bawah kepemimpinan Parsi. Mereka berusaha pasca penjajahan Amerika terjadi dominasi kekuasaan Syi’ah. Nur Maliki juga merupakan bagian dominasi dari kekuasaan Syi’ah.

Iran

Pemerintah Iran sebagaimana diberitakan sibuk mengurusi masalah isu nuklir, lalu isu Hizbullah. Sementara Nusyairiyah di Syiria juga membutuhkan bantuan mereka. Selain itu ada isu reformasi dari sebagian kalangan sekuler Iran. Sehingga dengan itu sunni dapat bergerak lebih baik dan menyebar. Terutama di daerah Balukistan. Sebuah daerah Iran perbatasan dengan Pakistan dan Afghanistan yang mayoritas sunni.

Sebetulnya jumlah penduduk sunni di Iran itu 1/3 dari penduduk Iran. Dan 2/3 dari mereka ada di Balukistan. Sekarang masalah wilayatul faqih, masih tetap merupakan sandungan bagi sunni. Karena walaupun daerah itu penduduknya sunni, tetap saja orang Syi’ah menaruh tokoh agamanya sebagai wilayatul faqih. Sekarang lagi diprotes agar di wilayah sunni tidak ada wilayatul faqih.

Secara umum prospek popularitas Iran ke depan akan tertekan dengan negara-negara sunni semakin tampil di percaturan dunia, termasuk Indonesia, Turki yang mulai lebih tampil dan sekarang Negara Timur Tengah yang basis sunni juga mulai tampil. Iran sebagai negara syi’iy kembali proporsional sebagai minoritas setelah sebelumnya seolah-olah syi’ah-lah yang mayoritas di dunia, karena negara-negara basis sunni tidak pada tampil.

sumber : http://www.pks-arabsaudi.org/pip/?pilih=lihat&id=343

0 Response to "Dinamika Terkini Kawasan Timur Tengah Pasca Reformasi 2011"