Restrukturisasi dan Revitalisasi Konsep Politik Islam


Mayoritas pemikiran masyarakat modren (katanya) saat ini, bahwa terminologi "Politik" dengan terminologi "Islam" adalah dua hal yang kontradiktif. Sama mungkin (menurut mereka) seperti "al-Haq" dengan "al-Bathil", antara langit dan bumi, siang dan malam, baik dan buruk, suatu yang tabu dan bahkan tidak boleh untuk disamakan apalagi dipadukan dan disatukan. Benarkah memang demikian adanya? pertanyaan inilah yang saya kira sangat relefan untuk kita diskusikan.

Sekarang masih kita defenisikan dulu apa itu politik atau dalam bahasa arab disebut as-siyasah. Politik bisa didefenisikan sebagai prinsip-prinsip dan seni mengelola persoalan publik atau semua yang berhubungan dengan pemerintahan dan pengelolaan masyarakat.

Kalau kita telaah lebih dalam istilah politik memang tidak terdapat dalam Al-quran sebagaimana juga halnya dengan Aqidah. Lantas ketika politik tidak ada dalam Al-quran maka lantas politik bukanlah bagian dari Islam? lalu bagaimana dengan Aqidah yang juga tidak terdapat dalam Al-quran?

Dalam surat An-Nisa:54 ada istilah "kerajaan", dalam surat Al-Hajj:41 ada konsep "kedudukan", dalam surat An-Nisa:58 ada pula "hukum" dan "keadilan". Pertanyaannya kemana kira-kira kata-kata kerajaan, kedudukan, hukum dan keadilan bermuara? jawaban paling tepat adalah Politik.

Ada pertanyaan, Rasulullah SAW tidak pernah mencontohkan berpolitik ketika beliau berdakwah, apa benar demikian?. Coba kita telusuri sejarah kehidupan Rasulullah SAW sejak fase Makkah dan masuk fase Madinah. Apakah peradaban Madinah atau yang dikenal dengan masyarakat madani itu muncul secara tiba-tiba saja tanpa ada sebuah upaya, strategi, taktik untuk mewujudkannya? dan barangkali itulah pemahaman kita tentang politik, upaya untuk meraih dan mempertahankan kekuasaan.

Sampai disini kita sudah mulai melihat ada benang merah, antara politik dan islam sesungguhnya bukan suatu hal yang bertentangan. Kalau stigma yang melekat selama ini bahwa politik itu kotor, licik, penuh intrik, dan sebagainya,itu masalah lain yang berbeda, sedangkan makna utama politik tetaplah pengelolaan urusan manusia.

Dikotomi pengelolaan urusan manusia dari nilai-nilai islam inilah yang menyebabkan pengelolaannya penuh dengan kecurangan, kelicikan, intrik kotor, politik uang dan sebagainya. Justru disana letak masalahnya, ketika manusia melepaskan urusan politik berdiri sendiri dan Islam pada posisi yang lain. Padahal sesugguhnya keduanya suatu hal yang sangat klop dan sejalan jika dijalankan secara bersamaan, akan muncul politik yang santun, beradab, menghargai kejujuran dan jauh dari kebohongan.

0 Response to "Restrukturisasi dan Revitalisasi Konsep Politik Islam"