Quo Vadis Pancasila? Reorientasi Pancasila Sebagai Dasar Negara


Panca Sila pertama kali digagas oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945. Sukarno mengemukakan dasar-dasar sebagai berikut: Kebangsaan; Internasionalisme; Mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan; Kesejahteraan; Ketuhanan. Nama Pancasila itu diucapkan oleh Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni itu, katanya: ...Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa - namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.


Pertanyaan mendasar hari ini ini adalah benarkah pancasila sudah menjadi dasar negara ini? benarkah pancasila menjadi idealisme, menjadi nilai-nilai dasar, panduan bagi rakyat Indonesia? benarkah pancasila sudah dijadikan acuan dalam menjalankan amanah kenegaraan bagi para pejabat? benarkah pancasila sudah diamalkan oleh rakyat sebagai populasi yang menjadi subjek sekaligus objek pembangunan? benarkah pancasila ada didalam hati dan pikiran pemimpin dan rakyat Indonesia? atau semua itu hanya sekedar slogan, kamuflase, dan kemunafikan? mari kita kupas lebih jauh.

Hari ini pancasila seakan sudah kehilangan makna dan kharismanya, mungkin pancasila hanya sekedar nama dan slogan yang semua orang hafal kelima silanya. Namun tidak ada aplikasi dan pengamalan dari nilai-nilai pancasila itu sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau benar pancasila sebagai dasar negara dengan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa, kenapa di negeri ini sangat subur konsep-konsep ketuhanan yang lain yang bertentangan dengan nilai-nilai pancasila itu sendiri? setidaknya ada sekitar 250 aliran sesat yang ada di Indonesia yang melakukan kegiatan-kegiatan yang justru bertentangan dengan pancasila sebagai dasar negara. Munculnya penyakit TBC (tahayul, bid'ah dan churafat (kurafat), kemusyrikan, dan sejenisnya menunjukkan bahwa konsep Ketuhanan Yang Maha Esa belum aplikatif dalam kehidupan masyarakat.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, benarkah itu? bagaimana aplikasinya dalam kehidpan berbangsa dan bernegara? benarkah keadilan itu sudah diterapkan dalam kehidupan negara ini? lantas kenapa seorang nenek yang mencuri 3 buah kakao lantas dihukum, tetapi para koruptor bebas berkeliaran ke singapura? kenapa korupsi merajalela di negeri ini, apakah pancasila memang mengajarkan seperti itu? kenapa tidak adalagi kesopanan dan etika dalam masyarakat negeri ini? kenapa itu? tanya kenapa, katanya pancasila sebagai harga mati dasar negara.

Persatuan Indonesia harus juga dikaji ulang, hanya karena urusan-urusan sepele dan tidak bermanfaat, rakyat bisa bertengkar, pejabat saling tuding dan menyalahkan. Hanya karena isu-isu yang tidak terlalu penting lantas ditanggapi secara reaktif berlebihan. Kurangnya toleransi, tenggang rasa, rasa kepeduliaan terhadap sesama maupun antara rakyat dan pemimpin atau sebaliknya, menunjukkan bahwa persatuan masih menjadi suatu yang harus diwaspadai.

Kalau benar pancasila sebagai dasar negara yang punya konsep Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, lantas kenapa hukum dan kebijakan hanya berpihak kepada kepentingan penguasa dan kroninya, kebijakan berpihak kepada yang dua hal: penguasa dan pengusaha, bukan kepada kemaslahatan hikmat kebijaksanaan untuk kepetingan rakyat.

Benarkah ada Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia? keadilan bukannya hanya untuk penguasa dan pengusaha. Kalau dekat dengan kekuasaan dan punya duit maka semua urusan selesai. Bukti lain, berita seorang nenek yang mencuri 5 Permen Coklat yang kemudian Divonis 3 Bulan Penjara, lantas dimana letak keadilan bagi para koruptor, pejabat yang menyalahgunakan kekuasaan negara yang tidak tersentuh oleh hukum bahkan dengan seenaknya melenggang ke luar negeri? benarkah keadilan sudah tegak.

Lantas kalau seperti itu, pancasila dimana letaknya?

0 Response to "Quo Vadis Pancasila? Reorientasi Pancasila Sebagai Dasar Negara"