Ilmu Tanpa Integritas Mencelakakan
Ilmu Tanpa Integritas Mencelakakan
Oleh: Iqbal Anas
Di tengah derasnya arus modernisasi pendidikan, masyarakat sering kali terpesona oleh gelar akademik. Profesor, doktor, lulusan universitas ternama dalam dan luar negeri sering ditempatkan sebagai simbol kecerdasan, kompetensi, dan bahkan moralitas. Namun realitas berulang kali menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual tidak selalu berjalan seiring dengan integritas.
Kasus terbaru yang menyita perhatian publik adalah penetapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, sebagai tersangka dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2025-2026 oleh Kejaksaan Agung. Yang menarik, Dadan bukanlah figur biasa. Ia merupakan akademisi, dosen, peneliti, dan ilmuwan dengan rekam jejak pendidikan yang mengesankan. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di IPB, meraih gelar magister di Universitas Bonn, serta doktor di Leibniz Universität Hannover, Jerman. Sebelum masuk ke pemerintahan, ia dikenal sebagai pakar entomologi dan akademisi produktif.
Kasus ini tentu masih berada dalam proses hukum. Asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung tinggi. Namun peristiwa ini kembali mengingatkan kita pada satu pertanyaan mendasar: mengapa orang-orang yang sangat terdidik tetap dapat terjerumus dalam praktik korupsi?
Pertanyaan ini sesungguhnya bukan fenomena baru. Dalam dua dekade terakhir, publik menyaksikan banyak pejabat dengan latar belakang akademik tinggi terseret kasus korupsi. Ada yang bergelar doktor, profesor, bahkan guru besar. Sebagian pernah menjadi rektor, dosen, atau peneliti. Mereka memahami teori etika, tata kelola pemerintahan, dan hukum administrasi negara. Namun pengetahuan itu ternyata tidak cukup menjadi benteng moral ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan, uang, dan kepentingan.
Di sinilah kita perlu membedakan antara ilmu dan integritas.
Ilmu adalah kemampuan memahami sesuatu. Integritas adalah kemampuan menjaga diri ketika memahami sesuatu. Ilmu menjawab pertanyaan "apa yang bisa dilakukan", sedangkan integritas menjawab pertanyaan "apa yang seharusnya dilakukan".
Seseorang yang memiliki ilmu tanpa integritas dapat menjadi sangat berbahaya. Ia memiliki kemampuan untuk merancang sistem, memahami celah regulasi, mengelola jaringan, bahkan memanipulasi prosedur dengan tingkat kecanggihan yang lebih tinggi dibanding orang biasa. Korupsi yang dilakukan oleh orang berpendidikan sering kali tidak bersifat kasar dan sederhana. Ia tampil rapi, administratif, legal secara formal, namun menyimpang secara moral.
Sejarah dunia memberikan banyak contoh. Krisis keuangan global tahun 2008 tidak dipicu oleh orang-orang yang tidak terdidik. Sebaliknya, banyak pelakunya adalah lulusan universitas terbaik dunia yang menguasai matematika keuangan dan ekonomi tingkat tinggi. Mereka memahami risiko, tetapi memilih mengabaikan etika demi keuntungan.
Artinya, masalah utama bukan kekurangan ilmu. Masalahnya adalah kegagalan karakter.
Pendidikan modern sering terjebak pada pengukuran aspek kognitif. Nilai tinggi, indeks prestasi tinggi, publikasi ilmiah banyak, sertifikasi profesional lengkap. Semua itu penting. Namun ada satu aspek yang sering dianggap pelengkap, yaitu karakter.
Padahal karakter bukan pelengkap pendidikan. Karakter adalah fondasi pendidikan.
Bangunan pengetahuan tanpa fondasi karakter akan mudah roboh ketika diterpa kepentingan pribadi. Sebaliknya, karakter yang kuat dapat menjaga seseorang tetap berada di jalur yang benar meskipun memiliki akses besar terhadap kekuasaan dan sumber daya.
Dalam tradisi pendidikan Islam, konsep ini sebenarnya telah lama ditegaskan. Para ulama klasik tidak pernah memisahkan ilmu dan adab. Bahkan banyak yang menyatakan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Imam Malik pernah menasihati agar seseorang mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu. Pesannya sederhana: ilmu akan menjadi cahaya jika berada di tangan orang yang berakhlak, tetapi dapat berubah menjadi alat kerusakan jika berada di tangan orang yang kehilangan moralitas.
Sayangnya, orientasi pendidikan saat ini sering bergerak ke arah yang berbeda. Sekolah berlomba menghasilkan lulusan dengan nilai tinggi. Perguruan tinggi berlomba meningkatkan jumlah publikasi. Lembaga pendidikan bangga dengan jumlah profesor dan doktor yang dimiliki. Namun pertanyaan yang jarang diajukan adalah: sejauh mana pendidikan berhasil membentuk kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan keberanian moral?
Tidak mengherankan jika kita menemukan paradoks. Semakin tinggi tingkat pendidikan suatu individu, semakin tinggi pula kemampuan intelektualnya. Namun hal itu tidak otomatis berbanding lurus dengan kualitas moralnya.
Korupsi pada akhirnya bukan sekadar masalah hukum. Korupsi adalah kegagalan pendidikan dalam makna yang paling mendasar.
Ketika seorang pejabat yang sangat terdidik menyalahgunakan kewenangannya, yang gagal bukan hanya individu tersebut. Yang gagal adalah proses panjang pembentukan karakter yang seharusnya menyertai perjalanan intelektualnya.
Karena itu, reformasi pendidikan tidak cukup hanya berbicara tentang kurikulum digital, kecerdasan buatan, literasi data, atau keterampilan abad ke-21. Semua itu penting. Namun yang lebih penting adalah memastikan bahwa setiap kemajuan intelektual berjalan beriringan dengan kemajuan moral.
Sekolah harus menjadi tempat lahirnya manusia yang jujur, bukan sekadar manusia yang pintar. Universitas harus menjadi tempat lahirnya pemimpin yang berintegritas, bukan sekadar pengumpul gelar. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang mampu berkata "tidak" ketika memiliki kesempatan untuk berbuat salah.
Masyarakat juga perlu mengubah cara pandang. Kita terlalu mudah terpesona oleh gelar akademik. Gelar sering dianggap bukti otomatis dari kualitas seseorang. Padahal gelar hanya menunjukkan tingkat pendidikan, bukan kualitas karakter.
Kita membutuhkan ukuran yang lebih substansial. Bukan hanya bertanya seseorang lulusan universitas mana, tetapi juga bagaimana rekam jejak integritasnya. Bukan hanya berapa banyak publikasinya, tetapi juga seberapa konsisten ia menjaga amanah publik.
Kasus demi kasus yang melibatkan tokoh-tokoh berpendidikan tinggi semestinya menjadi cermin bagi bangsa ini. Pendidikan yang berhasil bukanlah pendidikan yang hanya melahirkan orang cerdas. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan orang cerdas sekaligus bermoral.
Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Universitas setiap tahun menghasilkan ribuan sarjana, magister, dan doktor. Yang masih langka adalah manusia yang mampu mempertahankan integritasnya ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan.
Ilmu dapat membuka pintu kesuksesan. Namun hanya integritas yang mampu menjaga seseorang tetap terhormat setelah berada di dalamnya.
Dan ketika ilmu berjalan tanpa integritas, yang lahir bukan kemajuan. Yang lahir justru kerusakan yang lebih sistematis, lebih rapi, dan lebih sulit dideteksi.
Itulah sebabnya pendidikan karakter bukan pelengkap pendidikan. Ia adalah jantung pendidikan itu sendiri.
Belum ada Komentar untuk "Ilmu Tanpa Integritas Mencelakakan"
Posting Komentar